Pelatihan Sargassum di Labuhan Haji Buka Peluang Ekonomi Baru

ARTIKEL

Pelatihan Sargassum di Labuhan Haji Buka Peluang Ekonomi Baru

Pengolahan pascapanen rumput laut coklat dinilai kunci menembus pasar industri dan meningkatkan nilai jual nelayan.

Foto: Kepala Desa Labuhan Haji, Pahminuddin (baju merah) memberikan sambutan dan komitmen pemerintah desa dalam mendukung pelaksanaan Program Inovasi Hijau di Desa Labuhan Haji yang ditandai dengan kegiatan pelatihan bagi masyarakat Desa Labuhan Haji pada, Sabtu (11/04/2026).

Lombok Research Center (LRC) melalui dukungan Yayasan Penabulu menggelar pelatihan pemanfaatan Sargassum di Desa Labuhan Haji, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, Sabtu, 11 April 2026. Pelatihan ini difokuskan pada teknik pascapanen guna meningkatkan kualitas dan nilai jual rumput laut coklat yang selama ini belum dimanfaatkan optimal oleh masyarakat pesisir.

Kegiatan yang berlangsung di pesisir Pantai Labuhan Haji itu diikuti 25 petani laut serta 18 mahasiswa dari Institute of Technology Lombok Timur. Pelatihan menghadirkan pemateri dari Zentide, Adelia Miranda.

Standar Industri dan Teknik Pascapanen

Dalam pemaparannya, Adelia menjelaskan potensi besar Sargassum di perairan Labuhan Haji. Namun, menurut dia, kualitas hasil panen kerap menjadi kendala utama untuk menembus pasar industri.

“Sargassum di Labuhan Haji sangat potensial. Tapi jika penanganannya tidak tepat, kadar air dan pasir tinggi, sehingga ditolak pabrik. Kuncinya ada di pencucian dan pengeringan,” ujarnya.

Ia memaparkan standar mutu industri sekaligus teknik penanganan pascapanen yang benar, mulai dari identifikasi jenis hingga proses pembersihan. Dalam sesi praktik, peserta diajak menerapkan prosedur operasional standar (SOP) pencucian tiga tahap menggunakan air laut, air payau, dan air tawar.

Setelah pencucian, peserta mempraktikkan teknik penirisan dan pengeringan menggunakan para-para bambu. Sargassum dihamparkan setipis mungkin, maksimal lima sentimeter, dan dibolak-balik setiap tiga jam agar kering merata dalam waktu dua hingga tiga hari.

“Ciri Sargassum kering yang siap jual adalah batangnya mudah patah, tidak lentur, dan kadar air di bawah 18 persen,” kata Adelia sambil menunjukkan sampel yang telah lolos uji pabrik.

Kendala di Tingkat Nelayan

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai persoalan yang disampaikan peserta. Ketua Kelompok Nelayan Desa Labuhan Haji, Abdul Manan, mengungkapkan rendahnya harga jual menjadi salah satu kendala utama.

“Harga Sargassum basah hanya Rp2.000 sampai Rp3.000 per kilogram. Kami jual basah karena tidak punya fasilitas pengeringan dan belum tahu teknik yang benar. Kalau hujan, hasil panen bisa rusak,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, fasilitator kegiatan, Triati, menyebut pelatihan ini merupakan langkah awal membangun rantai pasok Sargassum yang lebih terstruktur di Labuhan Haji.

“Masalah harga dan pasar bisa diatasi jika kita mampu menjaga mutu secara konsisten. Pabrik bersedia membeli dengan harga tersebut selama kualitas kering, bersih, dan pasokan rutin,” kata Triati.

Peluang Pasar dan Industri Biostimulan

Ke depan, LRC dan Yayasan Penabulu mendorong pembentukan kelompok pemasok Sargassum di tingkat desa. Kelompok ini diharapkan menjadi bagian dari rantai pasok industri, khususnya untuk produksi biostimulan berbasis rumput laut.

Adelia menjelaskan, biostimulan dari Sargassum saat ini banyak digunakan dalam pertanian organik dan memiliki permintaan tinggi di pasar industri.

“Kebutuhan bahan baku cukup besar, tetapi Sargassum kering berkualitas masih terbatas. Ini peluang bagi Labuhan Haji untuk masuk ke pasar tersebut,” ujarnya.

Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh LRC melalui dukungan Yayasan Penabulu dalam Program Inovasi Hijau

Dukungan Pemerintah Desa

Kepala Desa Labuhan Haji, Pahminuddin, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan ekonomi berbasis sumber daya laut. Ia menilai selama ini masyarakat belum menyadari nilai ekonomi Sargassum.

“Selama ini Sargassum dianggap sampah. Padahal, jika diolah dengan benar, bisa menjadi sumber pendapatan. Pemerintah desa siap mendukung pengembangan kelompok ini,” kata dia.

Pelatihan ditutup pada pukul 12.00 Wita setelah sesi tanya jawab dan penyusunan rencana pendampingan lanjutan. Sebagai langkah awal, tim Zentide akan mengambil sampel Sargassum dari Pantai Labuhan Haji—yang dikenal warga sebagai “beboyot”—untuk diuji kualitas dan kandungan bahan aktifnya sebelum masuk ke tahap produksi industri.

Lombok Research Center (LRC) adalah lembaga independen yang berfokus pada riset dan pengembangan kebijakan berbasis bukti.