Penguatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan Keluarga di Desa Paokmotong

Beranda › Artikel

ARTIKEL

Penguatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan Keluarga di Desa Paokmotong

16 Mei 2026 Yayasan LRC Program: INKLUSI Fase II

Lombok Research Center (LRC) kembali melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui agenda bertajuk “Penguatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan” yang diselenggarakan pada Jumat, 15 Mei 2026, bertempat di aula rumah Kepala Desa Paokmotong, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penguatan kelompok konstituen dalam Program INKLUSI yang dijalankan oleh Lombok Research Center bekerja sama dengan Yayasan BaKTI dengan dukungan pendanaan dari Department of Foreign Affairs and Trade  (DFAT) Australia.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pemerintah Desa dan anggota kelompok konstituen Desa Paokmotong yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat desa. Suasana diskusi berlangsung hangat dan partisipatif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berbagi pengalaman mengenai kondisi pangan keluarga di lingkungan masing-masing. Sebagian besar peserta mengakui bahwa selama ini pekarangan rumah belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan pangan rumah tangga sehari-hari.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penguatan pengetahuan mengenai pentingnya pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga yang sehat, murah, dan berkelanjutan. Materi yang disampaikan mencakup teknik sederhana pengelolaan pekarangan, pemanfaatan lahan sempit, pola tanam rumah tangga, hingga pengembangan tanaman pangan lokal yang dapat dikonsumsi sehari-hari maupun memiliki nilai ekonomi tambahan bagi keluarga.

Optimalisasi Pekarangan sebagai Sumber Pangan Keluarga

Ketahanan pangan rumah tangga menjadi isu penting di Kabupaten Lombok Timur karena wilayah ini masih sangat bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber utama penghidupan masyarakat. Berdasarkan kondisi pertanian daerah, komoditas pangan utama masyarakat Lombok Timur masih didominasi oleh padi, jagung, cabai, tomat, kacang panjang, terong, kangkung, bayam, singkong, ubi jalar, dan berbagai jenis tanaman hortikultura lainnya. Selain itu, masyarakat juga banyak memanfaatkan tanaman lokal seperti kelor, pisang, pepaya, dan kelapa sebagai sumber pangan keluarga.

Padi masih menjadi komoditas utama masyarakat Lombok Timur karena sebagian besar wilayah desa memiliki lahan pertanian sawah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat mulai menghadapi tantangan berupa perubahan iklim, keterbatasan air, kenaikan harga pupuk, hingga fluktuasi harga pangan di pasar. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat mulai menyadari pentingnya diversifikasi pangan keluarga agar tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan pangan saja.

Melalui kegiatan penguatan pekarangan ini, peserta didorong untuk mulai memanfaatkan halaman rumah dengan menanam berbagai jenis tanaman pangan yang mudah dibudidayakan, seperti cabai, tomat, kangkung, sawi, bayam, terong, dan tanaman obat keluarga. Selain mudah ditanam, komoditas tersebut juga memiliki kebutuhan tinggi dalam konsumsi rumah tangga sehari-hari sehingga dapat membantu mengurangi pengeluaran keluarga.

Dalam sesi diskusi, narasumber juga menjelaskan bahwa pekarangan rumah dapat menjadi salah satu solusi menghadapi ketidakstabilan harga pangan. Ketika harga cabai, bawang, atau sayuran mengalami kenaikan di pasar, masyarakat yang memiliki tanaman di pekarangan rumah tetap dapat memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga secara mandiri. Bahkan jika dikelola dengan baik, hasil pekarangan juga dapat dijual untuk menambah pendapatan rumah tangga.

Diversifikasi Pangan Lokal untuk Mengurangi Ketergantungan Beras

Selain membahas pemanfaatan pekarangan, kegiatan ini juga memberikan penguatan mengenai diversifikasi pangan lokal. Selama ini masyarakat cenderung berfokus pada konsumsi beras, padahal Lombok Timur memiliki banyak potensi pangan lokal yang bernilai gizi tinggi. Beberapa komoditas lokal seperti jagung, singkong, ubi jalar, kacang-kacangan, hingga daun kelor sebenarnya dapat dikembangkan menjadi alternatif pangan keluarga yang sehat dan ekonomis.

Daun kelor misalnya, saat ini mulai banyak dikenal sebagai salah satu tanaman dengan kandungan gizi tinggi. Tanaman yang mudah tumbuh di lingkungan masyarakat Lombok Timur tersebut dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan rumah tangga. Begitu pula dengan singkong dan ubi jalar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras.

Salah satu anggota kelompok konstituen Desa Paokmotong menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini sangat membantu masyarakat, terutama perempuan dan ibu rumah tangga, dalam memahami pentingnya pengelolaan pangan keluarga berbasis rumah tangga.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kegiatan ini. Selama ini kami memiliki pekarangan, tetapi belum tahu bagaimana mengelolanya dengan baik. Dari kegiatan ini kami mendapatkan pengetahuan baru tentang pemanfaatan pekarangan untuk kebutuhan pangan keluarga, sekaligus memahami pentingnya diversifikasi pangan lokal agar keluarga tidak hanya bergantung pada satu jenis makanan,” ungkap salah satu peserta kegiatan.

Peran Perempuan dan Kelompok Konstituen dalam Ketahanan Pangan Desa

Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya peran perempuan dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan memiliki posisi penting dalam mengatur konsumsi rumah tangga, mengelola pangan keluarga, hingga menjaga keberlanjutan kebutuhan pangan anak-anak. Karena itu, penguatan kapasitas perempuan melalui kelompok konstituen dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan pangan berbasis komunitas.

Melalui Program INKLUSI, Lombok Research Center terus mendorong penguatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa secara inklusif. Program ini tidak hanya fokus pada isu ketahanan pangan, tetapi juga penguatan kelompok masyarakat rentan, pemberdayaan perempuan, peningkatan kapasitas komunitas, serta penguatan ekonomi keluarga di tingkat desa.

Ke depan, pemanfaatan pekarangan rumah diharapkan dapat menjadi gerakan bersama masyarakat desa dalam memperkuat ketahanan pangan lokal. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, pengembangan pekarangan juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih hijau, sehat, dan produktif. Dengan penguatan pengetahuan dan keterampilan yang terus dilakukan, masyarakat diharapkan semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga secara berkelanjutan.