OPINI
Ketika Ekonomi NTB Tumbuh, Mengapa Warganya Tetap Pergi?
Pertumbuhan investasi dan pariwisata di Nusa Tenggara Barat belum sepenuhnya menghadirkan pekerjaan lokal yang layak bagi masyarakat usia produktif.
Tingginya migrasi tenaga kerja dari NTB bukan hanya soal perpindahan pekerja ke luar negeri. Fenomena ini memperlihatkan bahwa pasar kerja lokal belum mampu memberi rasa aman ekonomi dan harapan masa depan yang cukup bagi banyak masyarakat usia produktif.
Di tengah geliat pembangunan kawasan wisata, pembangunan jalan, hotel, dan masuknya investasi ke Nusa Tenggara Barat (NTB), ribuan masyarakat usia produktif tetap memilih bekerja ke luar negeri. Setiap tahun, jumlah pekerja migran asal NTB terus bertambah. Lombok Timur dan Lombok Tengah masih menjadi daerah pengirim terbesar.
Pertumbuhan Ekonomi NTB dan Realitas Migrasi Tenaga Kerja
Dalam situasi anggaran yang menyempit, yang pertama dikorbankan sering kali adalah ruang partisipasi.
Situasi ini menghadirkan pertanyaan sederhana, tetapi penting: jika ekonomi daerah terus tumbuh, mengapa begitu banyak warga NTB masih merasa harus pergi untuk mencari kehidupan yang lebih layak?
Selama ini migrasi tenaga kerja sering dipahami sebagai kisah keberhasilan ekonomi masyarakat desa. Memang ada benarnya. Banyak keluarga migran berhasil memperbaiki kehidupan melalui remitansi. Rumah menjadi lebih baik, anak bisa melanjutkan sekolah, dan kebutuhan rumah tangga lebih terjamin. Di banyak desa, keberhasilan bekerja di luar negeri bahkan menjadi simbol keberhasilan sosial keluarga.
Namun di balik cerita itu, ada persoalan yang lebih mendasar dan jarang dibicarakan secara jujur. Tingginya migrasi tenaga kerja sebenarnya juga menunjukkan bahwa pasar kerja lokal belum cukup mampu memberi harapan ekonomi yang kuat bagi masyarakatnya sendiri.
Data BP3MI NTB menunjukkan bahwa jumlah pekerja migran asal NTB kembali meningkat tajam setelah pandemi Covid-19. Pada 2025 jumlahnya mencapai lebih dari 35 ribu orang. Angka ini tidak bisa dibaca sekadar sebagai tingginya minat masyarakat bekerja ke luar negeri. Angka tersebut juga mencerminkan terbatasnya pilihan pekerjaan yang dianggap layak di daerah asal.
Pasar Kerja Lokal yang Belum Memberi Kepastian
Masalah utama NTB bukan sekadar pengangguran, tetapi dominasi pekerjaan informal dengan pendapatan rendah dan minim perlindungan sehingga migrasi menjadi pilihan ekonomi yang dianggap lebih menjanjikan.
Masalah utamanya bukan hanya pengangguran. Banyak masyarakat NTB sebenarnya bekerja. Tetapi sebagian besar masih berada di sektor informal dengan pendapatan tidak stabil dan perlindungan kerja yang minim. Data BPS NTB menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga tenaga kerja daerah masih bekerja di sektor informal.
Di desa-desa, pekerjaan yang tersedia umumnya masih bertumpu pada pertanian kecil, perdagangan informal, atau pekerjaan musiman. Sementara itu, pekerjaan formal dengan penghasilan lebih pasti jumlahnya masih sangat terbatas.
Padahal dalam beberapa tahun terakhir NTB sering dipromosikan sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Kawasan Mandalika berkembang menjadi simbol baru pembangunan daerah. Pariwisata disebut sebagai motor ekonomi baru NTB. Investasi terus didorong. Infrastruktur dibangun di berbagai wilayah.
Tetapi pertumbuhan ekonomi ternyata tidak otomatis menciptakan pekerjaan yang luas dan berkualitas bagi masyarakat lokal.
Sektor pariwisata, misalnya, memang tumbuh cukup cepat. Namun daya serap tenaga kerjanya masih terbatas dibanding sektor pertanian dan perdagangan. Sebagian besar pekerjaan di sektor wisata juga masih bersifat musiman dan berupah rendah. Posisi kerja yang lebih baik umumnya membutuhkan keterampilan dan akses yang tidak selalu dimiliki masyarakat lokal.
Akibatnya, banyak anak muda desa menghadapi situasi yang serba tanggung. Bertahan di sektor pertanian sering dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi, sementara peluang kerja formal di daerah juga sempit. Dalam kondisi seperti itu, bekerja ke Malaysia atau negara lain menjadi pilihan yang terasa lebih masuk akal.
Di banyak desa kantong PMI, migrasi bahkan sudah menjadi bagian dari pola hidup sosial masyarakat. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan cerita bekerja di luar negeri. Ketika orang tua, saudara, atau tetangga berhasil memperbaiki ekonomi keluarga melalui migrasi, bekerja ke luar negeri kemudian dianggap sebagai jalur mobilitas sosial yang paling realistis.
Karena itu, persoalan pekerja migran sebenarnya tidak bisa dipahami hanya sebagai isu penempatan tenaga kerja luar negeri. Persoalan ini berkaitan langsung dengan kualitas pembangunan ekonomi daerah dan kemampuan pasar kerja lokal menyediakan pekerjaan yang layak.
Kalau pembangunan daerah hanya bertumpu pada pertumbuhan investasi tanpa memperluas pekerjaan formal bagi masyarakat lokal, ketergantungan terhadap migrasi tenaga kerja akan terus berulang.
Membangun Pekerjaan Layak agar Warga Tidak Terus Pergi
NTB membutuhkan pembangunan ekonomi yang lebih terhubung dengan penciptaan pekerjaan layak, penguatan industri lokal, dan peningkatan keterampilan kerja agar masyarakat memiliki masa depan di daerahnya sendiri.
NTB membutuhkan arah pembangunan yang lebih berfokus pada penguatan pasar kerja lokal. Industrialisasi berbasis potensi daerah perlu diperkuat, terutama pada sektor pengolahan hasil pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha lokal yang mampu menyerap tenaga kerja lebih luas.
Pariwisata juga perlu dibangun dengan cara yang lebih terhubung dengan ekonomi masyarakat sekitar. Selama ini manfaat ekonomi wisata masih terlalu banyak berputar di lingkaran usaha besar. Padahal masyarakat lokal membutuhkan keterhubungan yang lebih nyata melalui UMKM, rantai pasok pangan lokal, ekonomi kreatif desa, dan peluang kerja yang lebih stabil.
Di saat yang sama, pendidikan vokasi dan pelatihan kerja juga harus mulai diarahkan pada kebutuhan riil pasar kerja daerah, bukan hanya berorientasi pada penempatan pekerja migran.
Pada akhirnya, persoalan terbesar NTB bukan semata tingginya angka migrasi tenaga kerja. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana menghadirkan pekerjaan yang membuat masyarakat merasa punya masa depan di daerahnya sendiri. Selama pekerjaan lokal belum mampu memberikan rasa aman ekonomi dan harapan mobilitas sosial yang cukup, migrasi akan terus dipandang sebagai jalan hidup yang paling realistis bagi banyak masyarakat NTB.
Catatan Redaksi
Artikel ini dimuat dalam kolom opini website Lombok Research Center (LRC) sebagai ruang terbuka bagi publik untuk menyampaikan gagasan.
Seluruh isi tulisan, termasuk data, pendapat, dan analisis, merupakan tanggung jawab sepenuhnya dari penulis. Pengelola website Lombok Research Center (LRC) tidak bertanggung jawab atas keakuratan maupun konsekuensi yang timbul dari isi tulisan ini, serta tidak mewakili atau mencerminkan pandangan resmi lembaga.