Wujudkan Pendidikan Inklusif, Puluhan Guru di Lombok Timur Ikuti Bimtek Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus

Beranda › Artikel

ARTIKEL

Wujudkan Pendidikan Inklusif, Puluhan Guru di Lombok Timur Ikuti Bimtek Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus

22 Juli 2026 Yayasan LRC Program: INKLUSI Fase II

Pendidikan inklusif menuntut kesiapan dan kemampuan tenaga pendidik dalam memahami kebutuhan spesifik setiap peserta didik. Merespons tantangan tersebut, Lombok Research Center (LRC) melalui Program INKLUSI BaKTI menyelenggarakan Bimbingan Teknis Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus bagi Guru Pendamping di Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung hingga Kamis (23/7/2026) di Aula Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (UPTD Dikbud) Kecamatan Montong Gading ini diikuti oleh para Guru Pendamping Khusus (GPK) dari berbagai unit pendidikan inklusif setempat. Adapun narasumber yang dihadirkan berasal dari Komisi Nasional Disabilitas (KND) Republik Indonesia serta Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Hamzanwadi.

Hadir sebagai narasumber, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) Eka Prastama Widiyanta mengapresiasi langkah berani yang diambil di tingkat kecamatan tersebut. Menurutnya, penerapan inklusi di sekolah tidak bisa hanya sebatas teori, melainkan harus diwujudkan dalam praktik nyata.

”Inklusi adalah komitmen dan pengalaman. Kecamatan Montong Gading telah menginisiasi layanan pendidikan inklusif yang luar biasa. Terus kembangkan selangkah demi selangkah. Semoga menjadi model bagi daerah lain untuk masa depan anak-anak kita,” tutur Eka.

Eka Prastama Widiyanta, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) berdialog interaktif dengan peserta Bimbingan Teknis Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus bagi Guru Pendamping di Kecamatan Montong Gading yang diselenggarakan Lombok Research Center (LRC) melalui dukungan Program INKLUSI BaKTI pada, 22-23 Juli 2026 di Aula Kantor UPTD Dikbud Kecamatan Montong Gading.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur LRC Suherman mengatakan, bimbingan teknis ini tidak sekadar membekali guru dengan keterampilan praktis, tetapi juga mendorong pergeseran paradigma tenaga pendidik dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus (ABK).

”Tujuan utamanya adalah memperkuat cara pandang kita bahwa asesmen merupakan langkah awal untuk mengenali potensi, memahami kebutuhan belajar, dan menentukan bentuk dukungan yang paling tepat bagi setiap peserta didik,” ujarnya.

Kesiapan guru menjadi sangat krusial lantaran sebanyak delapan sekolah di wilayah Montong Gading akan segera menerapkan sistem pendidikan inklusif secara penuh. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala UPTD Dikbud Kecamatan Montong Gading, Amat, M.Pd., menyoroti bahwa pemahaman tenaga pendidik selama ini sering kali masih terbatas dalam memaknai inklusivitas.

Ia menceritakan pengalaman pribadinya saat menemukan anak didik yang kesulitan menulis hingga kerap menangis akibat dikucilkan oleh teman-temannya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pendampingan yang tepat sangat dibutuhkan di ruang kelas.

”Jika kita tidak sungguh-sungguh menerapkan pendekatan ini, kita tentu akan sangat bersalah kepada anak-anak didik. Oleh karena itu, saya harap para guru dapat memanfaatkan waktu bimbingan teknis ini dengan sebaik-baiknya,” tegas Amat, M.Pd.

Peserta Bimtek serius memperhatikan materi dari narasumber

Acara bimbingan teknis ini kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Kurikulum Sekolah Dasar Dinas Dikbud Lombok Timur, Raihanatul Jannah, S.Pd. Dalam sambutannya, ia mengingatkan besarnya tantangan yang masih dihadapi, salah satunya berakar pada pemahaman masyarakat yang masih sempit mengenai ABK.

”Selain guru, kita juga harus terus mendorong dan menguatkan kapasitas para pengawas sekolah agar mampu mendampingi serta mengawasi peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan kolaborasi yang solid, tantangan tersebut pasti bisa kita atasi bersama,” tutur Raihanatul.

Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah, lembaga nonpemerintah, dan institusi seperti KND ini diharapkan menjadi cetak biru (blueprint) penanganan ABK di sekolah-sekolah umum lainnya. Dengan metode asesmen yang tepat dan perubahan pola pikir tenaga pendidik, pendidikan inklusif diyakini tidak akan lagi berhenti sebagai kebijakan di atas kertas, melainkan wujud nyata pemenuhan hak belajar tanpa diskriminasi bagi seluruh anak di penjuru negeri.