SUNYI YANG DISEDIAKAN: Menyelami Jejak INKLUSI BaKTI di Lombok Timur

Audit yang Berubah Menjadi Ruang Pengakuan, Pembelajaran, dan Perlawanan Sunyi Perempuan Desa


Pintu kayu Aula Hotel Syariah di Selong itu baru saja ditutup ketika suara-suara lirih mulai terdengar. Satu per satu perempuan dari desa-desa di kaki Rinjani membuka cerita yang selama ini hanya berputar di ruang-ruang sempit: tentang anak yang dinikahkan terlalu dini, tentang pukulan yang dianggap nafkah, tentang akses layanan publik yang terjal bukan karena jarak semata, tetapi karena ketidakpahaman dan ketidakberdayaan. Di ruangan itu, cerita-cerita sunyi berubah menjadi data, menjadi refleksi, menjadi arah perbaikan.
 
Di sinilah Yayasan BaKTI memulai kerja tiga harinya di Lombok Timur, membawa metode audit partisipatif bertajuk SINAKTI—Sinergi Monitoring dan Evaluasi Program serta Keuangan BaKTI Tahun 2025. Audit ini bukan sekadar menimbang angka-angka, melainkan membaca ulang denyut program INKLUSI, program nasional yang mendorong penghapusan kekerasan serta membuka akses layanan bagi kelompok miskin, marginal, perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.
 
Menyusuri Timur yang Sering Luput
Lombok Timur menjadi satu dari tujuh wilayah yang dipilih BaKTI di Kawasan Timur Indonesia. Seperti Maros, Kota Parepare, Tana Toraja, Kota Kendari, Kota Ambon, dan Kupang, wilayah ini masih menghadapi kekerasan berbasis gender yang tinggi dan layanan sosial yang sulit dijangkau—baik oleh penyandang disabilitas, keluarga miskin, maupun kelompok marginal lainnya. Kondisi geografis, minimnya sarana prasarana, hingga norma sosial yang kerap memaklumi kekerasan membuat perjuangan semakin terjal.
 
Karena itu, BaKTI tak hanya bekerja dari pusat. Mereka datang dengan tim lengkap—Operation Manager Santy Reza Riewpassa, Sr. Finance Officer Oktavius Samsurya Kadang, Project Accountant Andi Appi Patongai, dan Program Officer M. Ghufran H. Khordi—mengajak mitra lokal Lombok Research Center (LRC) duduk bersama, membuka arsip, bertanya pada warga, dan mencatat ulang apa yang sesungguhnya sudah berubah dan apa yang masih tertahan. “Kami ingin menggali kehidupan program dari mereka yang menjalankannya sehari-hari,” ujar Santy, membuka sesi pertama audit.

Diskusi yang berlangsung hangat antara Yayasan BaKTI bersama dengan Pengurus dan Staf Lombok Research Center (LRC) dalam kegiatan SINAKTI—Sinergi Monitoring dan Evaluasi Program serta Keuangan BaKTI Tahun 2025.

Audit yang Mengajari untuk Mendengarkan
Kegiatan SINAKTI dibagi dalam tiga ruang kerja, yaitu mereview laporan keuangan Program INKLUSI-LRC periode 2023–2024, diskusi terarah dengan penerima manfaat, serta perumusan rekomendasi organisasi dan perbaikan manajemen.
 
Namun sejak hari pertama, para peserta yang terdiri dari pengurus dan staf lembaga tahu bahwa audit ini tak seperti audit pada umumnya. Tak ada nada menghakimi. Yang ada justru pertanyaan-pertanyaan yang membuka ruang refleksi.
 
Suherman, Direktur LRC, memandang proses ini sebagai kesempatan langka. “Kami bisa melihat ulang setiap detail kerja kami. Ini membantu menyusun arah lembaga secara lebih tepat,” katanya.
 
Baiq Titis Yulianty, Koordinator Program INKLUSI-LRC, menyebut audit ini sebagai “ruang untuk mengukur diri”—apakah mimpi besar lembaga selaras dengan kapasitas yang dimiliki.

Ghufran H. Khordi Program Officer INKLUSI BaKTI melakukan proses tanya jawab langsung kepada salah satu anggota Kelompok Konstituen (KK) yang ada di 15 desa dampingan Lombok Research Center (LRC) mengenai pengalaman implementasi Program INKLUSI di Lombok Timur pada periode 2023-2024.

Ketika Perempuan Desa Menjadi Penutur Utama
Hari kedua menjadi titik balik paling keras sekaligus paling jujur. Para peserta dari lima belas desa—ketua kelompok konstituen, pendamping kekerasan, pendamping perlindungan sosial, dan pelaku UMKM—diminta mengisi lembar kerja mengenai pemahaman safeguarding, efektivitas program, serta unek-unek yang ingin mereka sampaikan.
 
Sri Yulyana, Ketua Kelompok Konstituen Desa Labuhan Haji, berdiri dengan suara mantap. “Dulu saya hanya mendengar,” katanya. “Sekarang saya berani bicara.”
 
Ia menceritakan bagaimana tiga tahun pendampingan LRC mengubahnya dari seorang ibu rumah tangga yang tak berani mengangkat suara, menjadi penggerak desa yang vokal menyuarakan perlindungan perempuan dan anak.
 
Di sudut lain, para pelaku UMKM menuturkan perubahan sederhana namun menentukan: pencatatan keuangan yang rapi, bertambahnya jaringan, hingga kenaikan laba. “Kami jadi ada bukti, ada catatan. Usaha terasa benar-benar hidup,” ujar seorang peserta.
 
Tentu tak semua cerita mulus. Rahima, Ketua Kelompok Konstituen Desa Teros, mengungkap sisi gelap perlawanan budaya. “Saat mencegah perkawinan anak, sering kali kami dianggap ikut campur,” ujarnya. Kesadaran masyarakat masih jauh dari ideal.
 
Ketika Pemerintah dan Warga Duduk Satu Meja
BaKTI lalu meramu pandangan dari para pemangku kepentingan: Dinas Sosial, DP3AKB, Dinas Dukcapil, kepala desa, LSM, Satgas PPKPT Universitas Gunung Rinjani (UGR), dan jurnalis. Dari forum inilah terlihat bagaimana kerja-kerja LRC dan Program INKLUSI mulai menembus struktur pemerintahan.
 
Fathiyah, pada pelaksanaan Program INKLUSI periode 2023-2024 sebagai Kabid PP DP3AKB Lotim, menyebut kelompok konstituen sebagai “mata dan telinga” dinas dalam deteksi dini kekerasan. “Penjangkauan kasus jadi jauh lebih cepat,” ujarnya.
 
Arfanny M. Massany dari Dinas Dukcapil menambahkan bukti konkrit: kolaborasi LRC–Dukcapil pada 2024 berhasil mendekatkan layanan penerbitan KTP, KK, dan Akta Lahir bagi 834 warga di enam desa. “Data kami jadi lebih valid,” katanya.
 
Namun kritik juga muncul. Rusliadi, Ketua Forum Jurnalis Lotim, menyoroti istilah “inklusif” yang dianggap terlalu elitis. “Kenapa tidak ada padanan lokal?” ia bertanya. Ia mencontohkan istilah adat “belas”—yang digunakan untuk merujuk pelerai perkawinan anak—aspek lokal yang bisa memperdekat pesan program.

M. Rusli Ketua Forum Jurnalis Inklusi Lombok Timur menyampaikan pengalaman dan tantangan yang dihadapi dalam implementasi Program INKLUSI bersama dengan Lombok Research Center (LRC)

Mencatat yang Baik, Mengingat yang Luka
Seluruh rangkaian SINAKTI dirancang untuk mencapai satu tujuan besar: memastikan program, keuangan, dan manajemen mitra berjalan sesuai standar, efektif, bebas dari risiko fraud, dan mampu menghasilkan praktik baik yang dapat direplikasi.
 
Lebih dari itu, SINAKTI adalah mekanisme merawat keberlanjutan organisasi masyarakat sipil—yang sering kali bekerja tanpa sorot lampu tetapi memikul beban perubahan sosial yang sangat berat.
 
BaKTI berkomitmen menjadikan SINAKTI sebagai agenda tahunan. Dari Lombok Timur, dari cerita para perempuan desa, dari pendamping yang sering dianggap ikut campur, dari layanan administrasi yang kian dekat, dari kritik jurnalis hingga catatan dinas—semua menjadi penanda bahwa perubahan sedang bergerak.
 
Pelan, kadang tersendat, tetapi nyata.
Di ruangan itu, suara-suara yang dulu berbisik kini mulai terdengar lebih nyaring. Mereka bukan sekadar penerima manfaat. Mereka penutur perubahan. Dan SINAKTI menjadi panggung kecil tempat cerita itu untuk pertama kalinya benar-benar didengar.