Ketika Memiliki Ponsel Belum Tentu Berarti Melek Digital

Beranda › Artikel

ARTIKEL

Ketika Memiliki Ponsel Belum Tentu Berarti Melek Digital
Menjembatani Kesenjangan Digital bagi Kelompok Rentan Melalui Pendampingan Berbasis Komunitas

21 Juni 2026 Yayasan LRC Program: SIDP

Ponsel pintar kini telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Di warung kopi, pasar tradisional, lahan pertanian, hingga ruang keluarga, perangkat kecil itu hampir selalu berada dalam genggaman. Kehadirannya seolah menandai bahwa teknologi digital telah menjangkau berbagai lapisan kehidupan.

Namun, di balik tingginya kepemilikan perangkat digital, masih tersimpan persoalan yang kerap luput dari perhatian. Memiliki telepon pintar ternyata tidak otomatis membuat seseorang mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.

Banyak orang masih menggunakan perangkat digital sebatas untuk menelepon, mengirim pesan, atau melihat berbagai informasi yang melintas di media sosial. Sebagian lainnya bahkan merasa ragu ketika harus membuat akun digital, mengakses layanan daring, atau menggunakan internet untuk mendukung pekerjaan dan meningkatkan keterampilan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan digital kini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan akses internet atau kepemilikan perangkat. Tantangan yang dihadapi masyarakat telah bergeser pada aspek yang lebih mendasar, yakni kemampuan memahami teknologi, kepercayaan diri untuk menggunakannya, serta kesempatan memperoleh pendampingan dalam proses belajar.

Mereka yang Masih Berada di Tepi Arus Digital

Di tengah percepatan transformasi digital yang merambah hampir seluruh sektor kehidupan, tidak semua kelompok masyarakat bergerak dengan kecepatan yang sama.

Perempuan di pedesaan, pemuda dari keluarga prasejahtera, dan penyandang disabilitas masih menjadi kelompok yang paling rentan tertinggal. Mereka sering menghadapi hambatan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Bagi sebagian perempuan, ruang digital masih dipandang sebagai wilayah yang rumit dan penuh risiko. Kekhawatiran menjadi korban penipuan, salah menggunakan aplikasi, atau tidak memahami istilah-istilah teknologi membuat banyak di antara mereka memilih menjadi pengguna pasif.

Di sisi lain, penyandang disabilitas sering kali belum memperoleh informasi yang memadai mengenai berbagai fitur aksesibilitas yang sebenarnya telah tersedia pada perangkat digital. Padahal, teknologi dapat menjadi sarana penting untuk membuka akses terhadap informasi, pendidikan, pekerjaan, maupun interaksi sosial secara lebih mandiri.

Sementara itu, banyak anak muda yang sangat akrab dengan media sosial, tetapi belum sepenuhnya memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas peluang hidup. Mereka terbiasa mengonsumsi konten digital, namun belum tentu memiliki keterampilan untuk memanfaatkan internet sebagai sarana belajar, membangun usaha, atau mengembangkan karier.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak cukup diukur dari jumlah pengguna internet yang terus meningkat. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memahami dan memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan serta potensinya.

Peserta Pelatihan Pelatih Komunitas Program Skills for Inclusive Digital Partisipacion (SIDP) British Council-LRC tampak serius mengikuti materi dari Expert Level Trainer (ELT).

Belajar dari Orang yang Dipercaya

Di banyak komunitas, proses belajar sering kali berlangsung lebih efektif ketika difasilitasi oleh orang-orang yang berasal dari lingkungan yang sama.

Seorang ibu rumah tangga biasanya lebih nyaman bertanya kepada tetangga atau sesama warga desa dibandingkan kepada instruktur yang baru dikenalnya. Demikian pula penyandang disabilitas akan lebih mudah belajar dalam lingkungan yang memahami kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi sehari-hari.

Karena itu, pendekatan berbasis komunitas semakin dipandang sebagai salah satu strategi penting untuk memperluas inklusi digital. Pendampingan tidak hanya menghadirkan pengetahuan, tetapi juga membangun rasa aman, kepercayaan, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru.

Kesadaran itulah yang menjadi salah satu landasan Program Skills for Inclusive Digital Participation(SIDP), sebuah inisiatif yang didukung British Council dan Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO), serta dijalankan oleh Lombok Research Center (LRC).

Melalui Pelatihan Pelatih Komunitas (Community Level Trainers/CLT) yang berlangsung di Lombok Timur pada 17–20 Juni 2026, sejumlah peserta dipersiapkan untuk menjadi pendamping digital di komunitas masing-masing. Mereka dibekali berbagai kemampuan, mulai dari keterampilan digital dasar, keamanan digital, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, hingga metode pembelajaran yang inklusif dan partisipatif.

Inklusi Digital Dimulai dari Rasa Percaya Diri

Yang dibangun melalui program semacam ini sesungguhnya bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi. Lebih dari itu, program ini berupaya menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat untuk menjadi bagian dari perubahan yang sedang berlangsung.

Bagi kelompok rentan, memasuki ruang digital sering kali bukan sekadar persoalan memahami perangkat atau aplikasi. Proses tersebut juga berkaitan dengan keberanian untuk mencoba, keyakinan bahwa mereka mampu belajar, dan kesadaran bahwa teknologi dapat membuka peluang baru dalam kehidupan.

Makna inklusi digital hadir ketika seorang perempuan mulai berani memasarkan produknya melalui platform digital. Ia juga hadir ketika seorang pemuda menemukan kesempatan belajar dan bekerja melalui internet. Begitu pula ketika penyandang disabilitas mampu mengakses informasi secara mandiri melalui fitur-fitur aksesibilitas yang tersedia.

Dalam konteks itu, teknologi sesungguhnya bukan tujuan akhir. Ia hanyalah alat yang memungkinkan seseorang memperluas pilihan dan kesempatan hidupnya.

Karena itu, tantangan terbesar transformasi digital bukan semata menghadirkan jaringan internet yang lebih cepat atau perangkat yang lebih canggih. Tantangan yang sesungguhnya adalah memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal ketika perubahan terus bergerak maju.

Sebab kemajuan digital baru benar-benar memiliki arti ketika manfaatnya dapat dirasakan oleh semua orang, termasuk mereka yang selama ini berada di pinggir arus perkembangan.