KK “Lentera Mas” Diskusikan Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah

Beranda › Artikel

ARTIKEL

KK “Lentera Mas” Diskusikan Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah

18 Mei 2026 Yayasan LRC Program: INKLUSI Fase II

Suasana halaman rumah ketua pengurus Kelompok Konstituen (KK) “Lentera Mas” di Lendang Nangka Utara tampak lebih ramai dari biasanya pada, Sabtu (16/05/2026). Sejak pagi, seluruh pengurus beserta anggota KK perwakilan pemerintah desa, mulai berdatangan untuk mengikuti Diskusi Kampung yang digelar dalam rangka Program INKLUSI-BaKTI Fase II yang difasilitasi oleh Lombok Research Center (LRC).

Kegiatan berlangsung sederhana, namun penuh antusiasme. Peserta duduk melingkar sambil berdiskusi mengenai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni ketahanan pangan keluarga. Tema ini dipilih karena semakin banyak warga merasakan dampak naiknya harga kebutuhan pokok dan perubahan cuaca yang tidak menentu terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.

Dalam diskusi tersebut, warga diajak melihat kembali potensi yang sebenarnya sudah mereka miliki, yaitu lahan pekarangan rumah. Selama ini, banyak pekarangan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, lahan kecil di sekitar rumah dapat ditanami sayuran, cabai, tomat, terong, tanaman obat keluarga, hingga tanaman pangan lainnya yang dapat membantu memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.

Beberapa peserta bahkan berbagi pengalaman mereka menanam sayur secara mandiri di pekarangan rumah. Ada yang mulai menanam kangkung dan bayam menggunakan polybag, ada pula yang memanfaatkan sudut halaman untuk cabai dan tomat. Hasilnya memang belum besar, tetapi cukup membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga.

Kelompok Konstituen (KK) “Lentera Mas” Desa Lendang Nangka Utara tampak serius menyimak materi diskusi dalam kegiatan diskusi kampung yang difasilitasi oleh Lombok Research Center (LRC) pada, Sabtu (16/05/2026) di rumah Ketua pengurus KK Lentera Mas yang juga menjadi sekretariat KK Desa Lendang Nangka Utara.

“Kalau cabai di rumah masih ada, kita tidak perlu beli terus di pasar,” ujar salah
seorang peserta disambut anggukan peserta lainnya.

Diskusi berjalan cair. Warga tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Mulai dari sulitnya mendapatkan bibit, kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan tanaman, hingga keterbatasan air saat musim kemarau.

Lalu Farouq Wardhana yang menjadi fasilitator sekaligus juga sebagai Porgram Officer (PO) INKLUSI LRC kemudian mengajak peserta memetakan solusi yang bisa dilakukan bersama. Salah satunya melalui penguatan kelompok konstituen agar warga dapat saling berbagi pengetahuan dan mendorong dukungan pemerintah desa terhadap program ketahanan pangan berbasis rumah tangga.

Selain membahas ketahanan pangan, diskusi juga menyinggung dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan masyarakat desa. Cuaca yang tidak menentu membuat pola tanam warga ikut berubah. Karena itu, pemanfaatan pekarangan rumah dipandang menjadi langkah sederhana namun penting untuk memperkuat ketahanan keluarga di tengah kondisi yang terus berubah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program INKLUSI-BaKTI yang selama ini mendorong pembangunan inklusif dengan melibatkan kelompok perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya dalam proses pembangunan desa.

Melalui forum seperti diskusi kampung, warga tidak hanya diajak memahami persoalan sosial di sekitar mereka, tetapi juga dilibatkan untuk mencari solusi bersama. Pendekatan inilah yang membuat kegiatan terasa lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Meski berlangsung dalam suasana sederhana, forum itu menjadi ruang penting bagi warga untuk saling belajar dan menguatkan. Di akhir kegiatan, peserta berharap diskusi semacam ini terus dilakukan secara berkelanjutan. Bagi mereka, ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Dari halaman rumah sendiri, langkah kecil itu sudah bisa dimulai.