Lombok Research Center (LRC) kembali melanjutkan program Inovasi Hijau melalui pelatihan ketiga bertajuk Pelatihan dan Praktik Penggunaan Biostimulan dari Sargassum pada Lahan Pertanian. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 14 Mei 2026, itu digelar di area demplot pertanian Desa Labuhan Haji dan diikuti 25 petani setempat.
Kegiatan ini diselenggarakan dengan dukungan pendanaan bersama Uni Eropa dan Yayasan Penabulu melalui program CO-EVOLVE 2 bersama Lokadaya dan skema hibah Lokadana. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penguatan praktik pertanian berkelanjutan di tingkat masyarakat.
Sejak pagi, suasana pelatihan berlangsung hangat dan akrab. Para petani datang membawa berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi di lahan, mulai dari serangan hama hingga penyakit tanaman yang kerap menyebabkan gagal panen. Di tengah kondisi biaya produksi yang terus meningkat, pelatihan ini menjadi ruang belajar bersama untuk mencari alternatif yang lebih murah, aman, dan berkelanjutan.
Kurangi Ketergantungan pada Pestisida Kimia
Maharani selaku fasilitator kegiatan menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memperkenalkan pemanfaatan bahan organik sebagai solusi pertanian ramah lingkungan. Selain dapat menekan biaya operasional, penggunaan bahan alami juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia yang selama ini digunakan secara berlebihan.
Kepala Desa Labuhan Haji, Pahminuddin, menyambut baik kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pendampingan dari kalangan akademisi dan praktisi pertanian untuk membantu petani menjawab persoalan yang terus berulang di lapangan.
“Petani sering menghadapi penyakit seperti patek dan layu yang sangat merugikan saat masa panen. Karena itu, kehadiran para ahli sangat penting agar petani punya solusi yang benar dan bisa diterapkan langsung,” ujarnya.

Potensi Sargassum untuk Ketahanan Tanaman
Dalam pelatihan tersebut, dua narasumber dari Universitas Mataram hadir memberikan materi sekaligus praktik lapangan. Nurrahman atau yang akrab disapa Deden menjelaskan potensi sargassum, sejenis rumput laut cokelat, sebagai biostimulan alami bagi tanaman.
Menurutnya, sargassum mengandung hormon pertumbuhan alami seperti auxin, cytokinin, dan gibberellin yang mampu merangsang pertumbuhan tanaman secara alami. Tidak hanya itu, kandungan kalsium di dalam ekstrak sargassum juga berperan memperkuat jaringan sel tanaman sehingga tanaman lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. “Selama ini rumput laut sering dianggap tidak punya nilai bagi pertanian. Padahal jika diolah dengan benar, sargassum bisa menjadi biostimulan yang sangat potensial,” kata Deden di hadapan peserta

Pengenalan Pengendalian Hama Terpadu
Sementara itu, Ir. Hery Haryanto, M.Si., yang membawakan materi tentang Pengendalian Hama Terpadu (PHT), mengingatkan petani agar lebih bijak menggunakan pestisida kimia. Ia menilai masih banyak petani yang keliru memahami pestisida sebagai “obat” tanaman, padahal bahan tersebut pada dasarnya merupakan racun yang penggunaannya harus disertai alat pelindung diri.
Dalam sesi pemaparannya, Hery juga memperkenalkan sejumlah alternatif pengendalian hama berbahan alami. Salah satunya pestisida nabati dari rendaman kulit bawang yang dinilai murah dan mudah dibuat petani secara mandiri. Ia juga mendorong pemanfaatan tanaman refugia sebagai habitat musuh alami hama di sekitar lahan pertanian.
Diskusi berlangsung hidup. Para petani tampak antusias menyampaikan pengalaman sekaligus pertanyaan yang mereka hadapi sehari-hari di lapangan.
Muksan, salah seorang peserta, menanyakan kemungkinan penggunaan jenis rumput laut lain apabila sargassum sulit ditemukan. Pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi diskusi tentang potensi bahan lokal yang tersedia di wilayah pesisir Lombok Timur.
Musahar mengungkapkan keresahan petani cabai terhadap penyakit “jamet” atau patek yang sering muncul menjelang akhir tahun dan menyebabkan kerusakan tanaman dalam jumlah besar. Sementara itu, Abidillah yang juga menjabat sebagai kepala dusun mencoba menggali kemungkinan mencampurkan ekstrak daun pepaya dengan sargassum untuk meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit.
Pelatihan ditutup dengan komitmen bersama untuk melakukan pembuktian langsung melalui lahan demplot. Para petani dan tim pendamping akan membandingkan tanaman yang menggunakan biostimulan sargassum dengan tanaman yang ditanam secara konvensional. Hasil uji lapangan tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi petani dalam menentukan metode budidaya yang lebih sehat, hemat biaya, dan berkelanjutan hingga masa panen.