ARTIKEL
Dari Sekolah ke Desa: Merajut Ruang Inklusif di Desa Teros
Upaya mewujudkan pendidikan inklusif di Desa Teros menunjukkan bahwa perubahan tidak cukup berhenti di sekolah, tetapi harus melibatkan seluruh ekosistem desa. Melalui kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan masyarakat, inisiatif ini menjadi penting sebagai langkah nyata menciptakan lingkungan yang ramah dan setara bagi anak-anak disabilitas. Dari sinilah, gagasan tentang desa inklusif mulai tumbuh dan menemukan bentuknya.

Pagi itu, Selasa 21 April 2026, suasana di Desa Teros, Kecamatan Labuhan Haji, terasa sedikit berbeda. Sejumlah orang dari latar belakang yang beragam duduk melingkar, berbagi cerita, pandangan, dan harapan. Mereka datang bukan sekadar menghadiri pertemuan, tetapi membawa satu kepentingan yang sama: bagaimana menjadikan pendidikan benar-benar inklusif, tidak hanya di sekolah, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari di desa.
Di tengah percakapan itu, nama SDN 1 Teros kerap disebut. Sekolah ini memang bukan sekolah biasa. Ia menjadi sekolah piloting inklusif—tempat di mana anak-anak dengan berbagai kondisi belajar bersama, tanpa sekat. Namun, semua yang hadir sepakat, upaya itu tak akan cukup jika hanya berhenti di pagar sekolah.
“Sekolah tidak bisa berdiri sendiri. Lingkungan di luar sekolah justru sangat menentukan apakah anak-anak disabilitas benar-benar merasa diterima,” ujar salah satu narasumber dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Timur.
Menyatukan Langkah, Menguatkan Peran
Kesadaran itulah yang mendorong Lombok Research Center (LRC) mengambil peran sebagai penghubung. Melalui Program INKLUSI yang didukung Yayasan BaKTI, LRC menggelar kegiatan bertajuk “Dari Sekolah Inklusif menuju Desa Inklusif.” Sebuah upaya untuk menyatukan langkah antara sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat.
Sebanyak 16 peserta hadir dalam forum itu. Ada perwakilan pemerintah, akademisi dari Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Hamzanwadi, hingga warga yang tergabung dalam kelompok konstituen dampingan LRC. Kelompok ini sendiri sudah dibentuk sejak 2022 sebagai ruang belajar bersama bagi masyarakat desa tentang isu inklusi.
Diskusi berjalan hangat, tidak kaku. Sesekali diselingi cerita pengalaman di lapangan—tentang anak yang masih kesulitan mengakses pendidikan, atau tentang orang tua yang perlahan mulai memahami kebutuhan anaknya.
“Kalau kita ingin desa ini ramah disabilitas, semua harus terlibat. Tidak bisa hanya guru, tidak bisa hanya pemerintah,” kata seorang perwakilan kelompok konstituen.
“Masukkan kutipan penting atau highlight utama dari artikel di sini.”

Dari Ruang Kelas ke Ruang Sosial
Desa Teros sebenarnya punya modal yang kuat. Mayoritas siswa di SDN 1 Teros berasal dari lingkungan sekitar. Artinya, apa yang terjadi di sekolah akan langsung berpengaruh pada kehidupan sosial di desa. Begitu juga sebaliknya.
Di sinilah pentingnya membangun sinergi. Ketika guru di sekolah mulai menerapkan pendekatan inklusif, masyarakat juga perlu memahami dan mendukung. Ketika pemerintah desa mulai menyusun kebijakan, perspektif inklusi harus ikut masuk di dalamnya.
LRC melihat ini sebagai sebuah siklus yang saling terhubung. Sekolah menjadi titik awal, tapi desa adalah ruang yang lebih luas untuk memastikan nilai inklusi benar-benar hidup.
Jalan Panjang yang Mulai Terbuka
Perjalanan menuju desa inklusif tentu bukan hal instan. Masih banyak tantangan—mulai dari pemahaman masyarakat yang belum merata, hingga keterbatasan dukungan kebijakan. Namun, langkah kecil yang dimulai dari pertemuan seperti ini menjadi fondasi penting.
LRC pun menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses ini. Bukan hanya lewat kegiatan formal, tapi juga dengan mendampingi masyarakat agar bisa menjadi penggerak di lingkungannya sendiri.
Di Desa Teros, harapan itu kini mulai menemukan bentuknya. Tidak selalu terlihat besar, tapi terasa nyata. Dari ruang kelas sederhana di SDN 1 Teros, gagasan tentang inklusi perlahan meluas—menyentuh rumah, jalan, hingga cara pandang masyarakatnya.
Dan mungkin, di situlah perubahan sejati bermula.
Lombok Research Center (LRC) adalah lembaga independen yang berfokus pada riset dan pengembangan kebijakan berbasis bukti.

