Menyiapkan Penggerak Digital dari Desa

Beranda › Artikel

ARTIKEL

Menyiapkan Penggerak Digital dari Desa

21 Juni 2026 Yayasan LRC Program: SIDP

Suasana ruang rapat Lombok Research Center (LRC) di Lombok Timur tampak lebih ramai dari biasanya pada 17–20 Juni 2026. Selama empat hari, tujuh pemuda bersama sejumlah staf LRC berkumpul dalam satu ruang belajar. Mereka tidak hanya datang untuk mengenal teknologi digital, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi penggerak yang kelak membawa pengetahuan tersebut kembali ke tengah masyarakat.

Mereka merupakan peserta Pelatihan Pelatih Komunitas (Community Level Trainers/CLT) dalam Program Skills for Inclusive Digital Participation (SIDP), sebuah inisiatif yang didukung British Council dan Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO). Program ini dijalankan oleh LRC untuk memperluas akses dan partisipasi digital bagi kelompok yang selama ini masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari perempuan, pemuda dari keluarga prasejahtera, hingga penyandang disabilitas.

Selama pelatihan, peserta didampingi dua Expert Level Trainer (ELT), Santi Nining Susanti dan Theresia Suganda. Keduanya tidak hanya membagikan pengetahuan tentang dunia digital, tetapi juga memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang inklusif dan partisipatif, sehingga peserta mampu menjadi fasilitator yang dekat dengan kebutuhan komunitas.

Memahami Tantangan Kesenjangan Digital

Hari pertama diawali dengan pengenalan visi besar Program SIDP dan berbagai tantangan yang masih dihadapi masyarakat dalam mengakses teknologi digital. Kegiatan ini turut dihadiri Programme Manager SIDP, Emma Yunita, serta Rita Damayanti dari FCDO.

Kehadiran keduanya menjadi pengingat bahwa transformasi digital tidak cukup hanya menghadirkan teknologi. Yang tak kalah penting adalah memastikan kelompok rentan memiliki kesempatan yang sama untuk memahami dan memanfaatkannya.

Dalam sesi tersebut, peserta diajak melihat bagaimana kesenjangan digital masih menjadi persoalan nyata. Tidak semua orang memiliki akses yang setara terhadap perangkat, internet, maupun keterampilan yang dibutuhkan untuk berpartisipasi di ruang digital. Karena itu, peran pelatih komunitas menjadi penting sebagai jembatan antara teknologi dan masyarakat.

Suasana Pelatihan Pelatih Komunitas Program Skills for Inclusive Digital Participation (SIDP) yang dilaksanakan di ruang rapat Lombok Research Center (LRC) pada 17-20 Juni 2026. (foto/LRC).

Dari Dasar-Dasar Teknologi hingga Keamanan Digital

Setelah memahami konteks yang lebih luas, peserta mulai mempelajari fondasi keterampilan digital. Mereka dikenalkan pada berbagai perangkat digital, cara kerja teknologi, penggunaan perangkat secara aman, hingga pemanfaatan internet dan layanan digital dalam kehidupan sehari-hari.

Materi tersebut menjadi bekal dasar sebelum mereka nantinya mendampingi warga di komunitas masing-masing.

Pada hari kedua, fokus pelatihan bergeser pada aspek keamanan digital. Peserta diajak memahami berbagai risiko yang muncul di ruang siber, mulai dari perlindungan data pribadi, pentingnya penggunaan kata sandi yang kuat, hingga cara mengenali informasi palsu atau hoaks yang semakin mudah menyebar melalui media digital. Pembahasan juga menyentuh isu yang semakin relevan, seperti cyber bullying dan berbagai bentuk kekerasan daring yang kerap dialami perempuan serta anak muda. Melalui diskusi dan studi kasus, peserta diajak memahami bagaimana menciptakan ruang digital yang lebih aman dan bertanggung jawab.

Teknologi untuk Semua

Memasuki hari ketiga, pembelajaran bergerak ke isu yang lebih mendalam, yakni aksesibilitas dan inklusi.

Peserta diperkenalkan pada berbagai fitur yang memungkinkan teknologi digunakan oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Mereka mempelajari cara kerja pembaca layar bagi penyandang netra, pemanfaatan kontrol suara, serta berbagai penyesuaian yang membuat proses belajar digital menjadi lebih ramah dan setara. Tidak hanya itu, peserta juga mendiskusikan prinsip kesetaraan, keberagaman, dan inklusi yang menjadi landasan utama Program SIDP. Melalui sesi ini, mereka diajak memahami bahwa teknologi seharusnya tidak menciptakan batas baru, melainkan membuka kesempatan yang lebih luas bagi setiap orang.

Belajar Menjadi Fasilitator

Salah satu peserta yang mendai CLT praktik langsung teknik menjadi fasilitator pada Program Skills for Inclusive Digital Participation (SIDP) British Council-LRC.

Hari terakhir menjadi momen yang berbeda. Para peserta tidak lagi berada pada posisi sebagai pembelajar, melainkan mulai mengambil peran sebagai fasilitator.

Mereka mempelajari teknik pedagogi, strategi mengajar orang dewasa, metode pembelajaran partisipatif, hingga cara membangun suasana belajar yang aman dan nyaman bagi kelompok rentan. Berbagai simulasi dan praktik mengajar dilakukan untuk membantu peserta memahami tantangan yang akan mereka hadapi saat mendampingi masyarakat.

Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan pelatihan tidak hanya ditentukan oleh kualitas materi, tetapi juga oleh kemampuan fasilitator dalam membangun kepercayaan dan menciptakan ruang belajar yang inklusif.

Investasi Sosial dari Akar Rumput

Bagi Program SIDP, keberhasilan transformasi digital tidak semata-mata diukur dari bertambahnya jumlah pengguna internet. Yang lebih penting adalah memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memahami, menggunakan, dan memperoleh manfaat dari teknologi.

Melalui pelatihan ini, para calon Pelatih Komunitas diharapkan menjadi penghubung antara perkembangan teknologi dan kebutuhan nyata masyarakat. Setelah kembali ke desa dan lingkungan masing-masing, mereka akan mendampingi perempuan, pemuda, serta penyandang disabilitas agar mampu berpartisipasi secara lebih aktif di era digital.

Bagi LRC, pelatihan tersebut merupakan lebih dari sekadar kegiatan peningkatan kapasitas. Ia adalah investasi sosial jangka panjang yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan. Sebab, ketika pengetahuan tumbuh dari dalam komunitas dan dibagikan oleh sesama warga, peluang untuk menciptakan perubahan yang bertahan lama menjadi jauh lebih besar.