Dari Desa Kembang Kerang, Jalan Inklusi Itu Tumbuh

Beranda › Artikel

ARTIKEL

Dari Desa Kembang Kerang, Jalan Inklusi Itu Tumbuh

14 Juni 2026 Yayasan LRC Program: INKLUSI

Siang itu, Desa Kembang Kerang di Kabupaten Lombok Timur tampak berbeda. Di antara deretan rumah warga dan aktivitas masyarakat yang berjalan seperti biasa, sejumlah tamu dari Australia datang menyusuri jalan desa. Mereka bukan sekadar berkunjung, melainkan ingin melihat dari dekat bagaimana gagasan tentang pembangunan inklusif tumbuh dan bekerja dalam kehidupan sehari-hari warga.

Rabu (10/6/2026), Konsulat Jenderal Australia untuk wilayah Bali-Nusa Tenggara mengunjungi desa tersebut dalam rangkaian kegiatan DFAT Domestic Media Visit to East Nusa Tenggara – Visits to INKLUSI Program Sites. Desa Kembang Kerang dipilih bukan tanpa alasan. Di desa inilah berbagai praktik pembangunan yang berupaya memastikan tidak ada warga yang tertinggal mulai menemukan bentuk nyatanya.

Di Gedung Serba Guna Desa Kembang Kerang, warga, anggota Kelompok Konstituen (KK), perangkat desa, pengurus BUMDes, hingga pelaku usaha mikro berkumpul menyambut rombongan yang dipimpin Konsul Jenderal Australia di Bali, Jo Stevens. Turut mendampingi sejumlah pejabat dari Pemerintah Australia, Sekretariat INKLUSI, Yayasan BaKTI, dan Lombok Research Center (LRC).

Namun yang menjadi pusat perhatian bukanlah para tamu. Sorotan justru tertuju pada cerita-cerita perubahan yang lahir dari masyarakat sendiri.

Ketika Warga Memiliki Ruang untuk Bersuara

Bagi sebagian masyarakat, terutama kelompok rentan dan marginal, menyampaikan kebutuhan kepada pemerintah sering kali bukan perkara mudah. Tidak semua memiliki akses, keberanian, ataupun ruang untuk menyampaikan aspirasi.

Melalui Program INKLUSI yang didukung Pemerintah Australia dan dijalankan bersama Yayasan BaKTI serta Lombok Research Center, ruang itu perlahan dibangun.

Salah satu wujudnya terlihat di Sekretariat Kelompok Konstituen Desa Kembang Kerang. Kelompok ini menjadi wadah bagi warga untuk berhimpun, berdiskusi, dan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari akses layanan dasar, perlindungan sosial, hingga peluang ekonomi.

Di tempat sederhana itu, suara-suara yang sebelumnya nyaris tak terdengar kini memiliki jalannya sendiri menuju ruang pengambilan keputusan.

Direktur Eksekutif Yayasan BaKTI Muhammad Yusran Laitupa menjelaskan bahwa pelaksanaan Program INKLUSI di Lombok Timur dibangun melalui kemitraan berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah daerah dan DPRD, tetapi juga media massa serta kelompok masyarakat, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya yang terorganisasi dalam Kelompok Konstituen.

Pendekatan tersebut memungkinkan pembangunan tidak lagi berjalan dari atas ke bawah semata, melainkan tumbuh dari kebutuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Dari Kanan-Kiri : Delegasi Konsulat Jenderal Australia Elise Cole Andrews (First Secretary Development Cooperation) dan Lachlan Norton (Second Secretary sekaligus Vice Consul Bali) duduk bersama masyarakat Desa Kembang Kerang.

BUMDes dan Jalan Baru bagi Pelaku UMKM

Perubahan lain terlihat dari aktivitas ekonomi warga. Di Desa Kembang Kerang, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak hanya berfungsi sebagai lembaga usaha desa. BUMDes menjadi jembatan yang menghubungkan pelaku usaha mikro dengan pasar yang lebih luas.

Berbagai produk yang dihasilkan anggota Kelompok Konstituen dipasarkan melalui BUMDes. Langkah sederhana itu memberi peluang bagi warga untuk memperluas jangkauan usaha mereka, sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

Yang menarik, keberhasilan usaha tersebut tidak berhenti pada keuntungan ekonomi semata. Sebagian laba yang diperoleh BUMDes disisihkan untuk membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu. Bantuan perlengkapan sekolah diberikan sebagai bentuk kepedulian sosial yang tumbuh dari hasil usaha bersama.

Di sinilah pembangunan inklusif menemukan makna yang paling konkret: ketika manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati segelintir orang, tetapi kembali mengalir kepada mereka yang membutuhkan.

Kisah Khaeriah dan Keripik Pisang yang Mengubah Harapan

Konsul Jenderal Australia di Bali, Jo Stevens (kanan) ikut mencoba proses pembuatan Keripik Pisang secara langsung dengan Khaeriah

Rangkaian kunjungan kemudian berlanjut ke rumah produksi milik Khaeriah, anggota Kelompok Konstituen Desa Kembang Kerang.

Di tempat itu, aroma pisang yang sedang diolah memenuhi ruangan. Tumpukan bahan baku terlihat di sudut rumah, sementara proses pengemasan berlangsung dengan lebih rapi dibanding beberapa tahun lalu.

Bagi Khaeriah, usaha keripik pisang bukan sekadar sumber penghasilan tambahan. Usaha itu menjadi simbol perubahan yang lahir dari pendampingan dan kesempatan.

Melalui dukungan Program INKLUSI, kualitas produk yang dihasilkannya meningkat, mulai dari proses produksi hingga kemasan. Perbaikan tersebut berdampak pada nilai jual produk dan membuka peluang pasar yang lebih luas.

Delegasi Australia menyaksikan langsung proses tersebut. Mereka melihat bagaimana perubahan yang sering kali hanya tercatat dalam laporan program sesungguhnya hadir dalam bentuk yang sangat nyata, usaha kecil yang berkembang, pendapatan keluarga yang meningkat, dan kepercayaan diri warga yang tumbuh.

Belajar dari Desa

Dalam sambutannya, Jo Stevens menegaskan bahwa Program INKLUSI merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Australia dalam mendukung kesejahteraan masyarakat Indonesia. Program ini melanjutkan kerja sama yang selama ini dibangun dalam bidang kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, inklusi sosial, dan penguatan masyarakat sipil.

Namun, pelajaran penting dari kunjungan tersebut justru datang dari tingkat desa. Desa Kembang Kerang menunjukkan bahwa inklusi sosial bukan sekadar istilah dalam dokumen pembangunan. Inklusi hadir ketika warga memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, ketika kelompok rentan memperoleh akses yang sama terhadap peluang ekonomi, dan ketika keberhasilan satu pihak dapat menjadi manfaat bagi komunitas yang lebih luas.

Perubahan itu mungkin tidak selalu terlihat dalam angka-angka besar. Ia tumbuh perlahan melalui pertemuan warga, pendampingan usaha kecil, hingga bantuan perlengkapan sekolah bagi anak-anak yang membutuhkan.

Dari sebuah desa di Lombok Timur, tersampaikan pesan sederhana namun penting: pembangunan akan menjadi lebih kuat ketika setiap orang diberi kesempatan untuk ikut serta. Dan di Kembang Kerang, kesempatan itu sedang tumbuh, satu langkah demi satu langkah.