Evaluasi Proyek Ekonomi Biru, Petani Labuan Haji Ceritakan Dampak Biostimulan Sargassum

Beranda › Artikel

ARTIKEL

Evaluasi Proyek Ekonomi Biru, Petani Labuan Haji Ceritakan Dampak Biostimulan Sargassum

06 Juli 2026 Yayasan LRC Program: INOVASI HIJAU

Pagi yang cerah di Desa Labuan Haji, Sabtu (4/7/2026), menghadirkan suasana yang berbeda. Di halaman rumah kepala desa, deretan kursi yang telah tertata hampir seluruhnya terisi ketika jarum jam mendekati waktu dimulainya kegiatan monitoring dan evaluasi Proyek Ekonomi Biru. Satu per satu petani datang membawa cerita tentang lahan yang mereka garap, sekaligus harapan terhadap inovasi yang tengah mereka coba.

Sebanyak 20 petani berkumpul dalam forum tersebut. Mereka berasal dari berbagai kelompok tani yang membudidayakan komoditas utama desa, mulai dari cabai, tembakau, jagung, hingga padi. Pertemuan itu bukan sekadar agenda evaluasi program, melainkan ruang untuk mendengarkan pengalaman langsung para petani yang menjadi pelaku utama perubahan.

Program yang dievaluasi merupakan bagian dari Proyek Ekonomi Biru yang dijalankan Lombok Research Center (LRC) bekerja sama dengan Yayasan Penabulu, dengan dukungan pendanaan dari Uni Eropa. Melalui proyek ini, rumput laut Sargassum yang selama ini melimpah di kawasan pesisir dan kerap dipandang sebagai limbah diolah menjadi biostimulan organik untuk mendukung produktivitas pertanian.

Gagasan tersebut mempertemukan dua sektor yang selama ini berjalan sendiri-sendiri: potensi sumber daya laut dan kebutuhan pertanian. Rumput laut yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini diharapkan menjadi alternatif yang mampu meningkatkan kesehatan tanaman sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Fasilitator dari LRC berdiskusi dengan petani peserta monitoring dan evaluasi mengenai hasil awal penggunaan biostimulan Sargassum pada tanaman cabai, tembakau, jagung, dan padi. Masukan dari petani menjadi bagian penting dalam penyempurnaan pengembangan inovasi berbasis ekonomi biru tersebut. Foto: Dokumentasi Lombok Research Center (LRC)

Suasana diskusi semakin hidup ketika para petani mulai berbagi pengalaman setelah menggunakan biostimulan berbahan dasar Sargassum. Salah seorang peserta yang juga menjabat sebagai kepala lingkungan menceritakan hasil awal yang ia rasakan pada tanaman cabai dan tembakaunya.

Aplikasi baru dilakukan dua kali, dan alhamdulillah tanaman cabai saya seperti gadis yang baru mandi. Segar dan sangat enak dipandang, ujarnya, disambut tawa dan senyum peserta lain.

Ungkapan sederhana itu mencairkan suasana sekaligus menggambarkan optimisme yang mulai tumbuh di kalangan petani. Walaupun efektivitas biostimulan terhadap peningkatan produksi masih terus dikaji melalui pemantauan lapangan, perubahan visual pada tanaman menjadi sinyal awal yang membangkitkan keyakinan mereka untuk terus mencoba.

Bagi tim pelaksana, forum monitoring dan evaluasi bukan sekadar mengukur capaian kegiatan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mendengar secara langsung suara petani mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi, mulai dari proses produksi biostimulan, pendampingan di lapangan, hingga teknik aplikasi pada berbagai jenis tanaman.

Peserta monitoring dan evaluasi mengikuti diskusi kelompok untuk berbagi pengalaman, tantangan, serta manfaat penggunaan biostimulan Sargassum di lahan pertanian. Kegiatan yang diselenggarakan Lombok Research Center bersama Yayasan Penabulu dengan dukungan Uni Eropa ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan inovasi pertanian ramah lingkungan berbasis potensi sumber daya pesisir. Foto: Dokumentasi Lombok Research Center (LRC)

Masukan tersebut dipandang sebagai bagian penting dari proses penyempurnaan program. Inovasi, menurut tim pelaksana, tidak akan berkembang hanya melalui laboratorium atau ruang perencanaan, melainkan harus tumbuh bersama pengalaman masyarakat yang menggunakannya.

Pendekatan ini juga mencerminkan semangat ekonomi biru yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga pada keberlanjutan. Dengan mengolah Sargassum menjadi produk bernilai guna, potensi pesisir dapat memberi manfaat bagi sektor pertanian tanpa menambah beban terhadap lingkungan.

Ke depan, Lombok Research Center bersama Yayasan Penabulu dan para mitra berkomitmen melanjutkan pendampingan, pengujian, serta evaluasi efektivitas biostimulan Sargassum pada berbagai komoditas pertanian. Harapannya, inovasi yang kini mulai tumbuh di Desa Labuan Haji dapat menjadi model yang direplikasi di wilayah pesisir lain di Indonesia.

Di tengah tantangan perubahan iklim, meningkatnya biaya produksi pertanian, dan kebutuhan akan praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan, secercah harapan terkadang lahir dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Di pesisir Labuan Haji, harapan itu tumbuh dari hamparan rumput laut Sargassum yang kini mulai menemukan peran barunya: menyuburkan tanah, menguatkan pertanian, dan menjembatani laut dengan sawah dalam satu ekosistem pembangunan yang berkelanjutan.