
Artikel
Ketika Limbah Laut Jadi Harapan Baru Petani Labuhan Haji
Apa yang selama ini dianggap limbah di pesisir Labuhan Haji kini mulai dilihat sebagai sumber solusi. Melalui pendekatan sederhana berbasis bahan lokal, petani didorong untuk lebih mandiri—mengurangi ketergantungan pada input kimia sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Pagi itu, pesisir Labuhan Haji tidak hanya dipenuhi hamparan sargassum yang biasa terbawa ombak. Di tangan para petani, rumput laut cokelat yang selama ini dianggap mengganggu justru mulai punya arti baru.
Melalui pelatihan yang difasilitasi Lombok Research Center (LRC) bersama Yayasan Penabulu, sebanyak 25 petani berkumpul, bukan sekadar untuk belajar, tapi untuk mencoba cara bertani yang lebih hemat, lebih sehat, dan lebih dekat dengan alam.
Kegiatan ini diselenggarakan dengan dukungan pendanaan bersama Uni Eropa dan Yayasan Penabulu pada program CO-EVOLVE 2 melalui Lokadaya dan skema hibah Lokadana.
Tekanan Biaya dan Hama yang Tak Kunjung Usai
Jelaskan poin Di desa ini, persoalan yang dihadapi petani sebenarnya tidak jauh berbeda dengan banyak wilayah lain: harga pupuk yang terus naik, insektisida yang semakin mahal, dan hama yang makin sulit dikendalikan.utama pada bagian ini. Gunakan paragraf yang terstruktur dan tidak terlalu padat.

“Kami sudah capek. Harga pupuk naik terus, obat hama juga mahal, tapi hama malah makin kebal,” kata Kepala Desa Labuhan Haji, Pahminuddin.”
Di desa ini, persoalan yang dihadapi petani sebenarnya tidak jauh berbeda dengan banyak wilayah lain: harga pupuk yang terus naik, insektisida yang semakin mahal, dan hama yang makin sulit dikendalikan.
Di sisi lain, laut justru membawa “masalah” lain—tumpukan sargassum yang sering dibiarkan begitu saja atau dibakar. Namun dari situlah titik baliknya dimulai.
Lewat pelatihan ini, para petani diajak melihat ulang apa yang selama ini dianggap tidak berguna. Sargassum ternyata menyimpan potensi sebagai biostimulan—zat yang membantu tanaman tumbuh lebih kuat. Dipadukan dengan bahan lokal lain seperti daun mimba dan bawang putih, bahan-bahan ini juga bisa diolah menjadi pengendali hama alami.

Bagi para peserta, pendekatan ini terasa dekat. Tidak butuh alat rumit, tidak bergantung pada bahan mahal, dan yang terpenting: bisa langsung dipraktikkan.
“Biasanya sargassum kami bakar. Daun mimba juga jarang dipakai. Ternyata bisa jadi penyubur dan obat tanaman,” ujar salah satu petani.
Di balik praktik sederhana itu, ada perubahan cara pandang yang mulai tumbuh. Bahwa solusi tidak selalu datang dari luar, tapi bisa ditemukan dari apa yang ada di sekitar.
Fasilitator pelatihan, Dr. Maharani, menjelaskan bahwa kandungan alami dalam sargassum mampu membantu tanaman menjadi lebih tahan terhadap tekanan lingkungan. Artinya, ketergantungan pada pupuk dan bahan kimia perlahan bisa dikurangi.
Langkah kecil ini menjadi bagian dari upaya yang lebih besar: mendorong pertanian yang tidak hanya produktif, tapi juga berkelanjutan.
LRC menargetkan dalam beberapa bulan ke depan para petani sudah bisa memproduksi sendiri biostimulan dan bioinsektisida ini. Pendampingan lanjutan juga akan terus dilakukan untuk memastikan praktik ini benar-benar berjalan di lapangan.
Bagi Desa Labuhan Haji, ini bukan sekadar pelatihan. Ini adalah awal dari kemungkinan baru—di mana limbah laut tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber daya. Di mana petani tidak hanya bertahan, tapi mulai menemukan cara untuk lebih mandiri.
“Kalau ini berhasil, Labuhan Haji bisa jadi contoh. Dari yang tadinya limbah, jadi solusi,” kata Pahminuddin.
Dan dari pesisir kecil di Lombok Timur ini, cerita tentang perubahan itu mulai ditulis—pelan, tapi nyata.