ARTIKEL
Warga Lendang Nangka Belajar Digital,
dari Keamanan Siber hingga Tangkal Hoaks
Sebanyak 25 warga Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, mengikuti Pelatihan Keterampilan Digital Dasar Batch II yang digelar selama tiga hari, 6–8 Juli 2026. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Skills for Inclusive Digital Participation (SIDP) itu bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menggunakan perangkat digital secara aman, produktif, dan bertanggung jawab.
Pelatihan yang diselenggarakan Lombok Research Center (LRC) tersebut menghadirkan fasilitator Reza Agus Fansuri, Rozian, dan Islahuddin. Peserta terdiri atas delapan laki-laki dan 17 perempuan yang mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, mulai dari survei awal (baseline), pre-test, praktik, hingga post-test.
Pada hari pertama, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar teknologi digital, mulai dari fungsi perangkat komputer dan telepon pintar, cara mengoperasikan perangkat dengan benar, hingga langkah sederhana mengatasi gangguan teknis. Peserta juga mempraktikkan cara membersihkan file sampah (cache) dan mengoptimalkan penyimpanan telepon pintar agar perangkat tetap bekerja dengan baik.
Hari kedua diisi dengan praktik langsung menggunakan perangkat masing-masing. Peserta mempelajari penggunaan papan ketik, tetikus, dan berbagai tombol pintas (shortcut) yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan komputer. Selain itu, mereka dikenalkan pada fitur aksesibilitas, pembuatan kata sandi yang kuat, aktivasi autentikasi dua faktor (2FA), serta teknik menggunakan internet dan browser secara efektif dan aman.
Memasuki hari terakhir, materi difokuskan pada keamanan digital. Fasilitator mengajak peserta mengenali ancaman seperti phishing, peretasan akun, tautan berbahaya, hingga cara membedakan situs yang aman melalui penggunaan protokol HTTPS. Peserta juga memperoleh materi mengenai kekerasan berbasis gender online (KBGO), perundungan siber, dan cara mengenali serta memverifikasi informasi untuk mencegah penyebaran hoaks.

Pelatihan berlangsung dengan metode ceramah interaktif, simulasi, diskusi, dan pendampingan individual. Pendekatan praktik langsung dinilai mampu meningkatkan partisipasi peserta karena mereka dapat langsung mencoba setiap materi menggunakan perangkat masing-masing. Penggunaan bahasa lokal selama penyampaian materi juga membantu peserta lebih mudah memahami konsep-konsep teknis.
Meski demikian, pelaksanaan pelatihan menghadapi sejumlah tantangan. Perbedaan spesifikasi perangkat yang dimiliki peserta membuat fasilitator harus memberikan penyesuaian selama praktik. Tingkat kemampuan digital peserta yang beragam juga membuat pendampingan dilakukan secara lebih intensif melalui pendekatan satu per satu.

LRC menilai seluruh target pelaksanaan kegiatan berhasil dicapai. Seluruh peserta mengikuti pelatihan selama tiga hari penuh, seluruh materi tersampaikan, dan seluruh instrumen evaluasi, termasuk baseline dan post-test, berhasil dilaksanakan.
Melalui pelatihan ini, penyelenggara mencatat adanya peningkatan kemampuan peserta dalam mengoperasikan perangkat digital, menggunakan internet secara lebih aman, memahami keamanan siber, serta mengidentifikasi informasi palsu. Sebagai tindak lanjut, LRC merekomendasikan pelatihan lanjutan dengan durasi praktik yang lebih panjang, penambahan fasilitator pada sesi praktik, serta pendampingan pascapelatihan untuk memastikan keterampilan digital masyarakat terus berkembang.