Tiga Hari Belajar Menjadi Warga Digital yang Aman dan Inklusif

Beranda › Artikel

ARTIKEL

Tiga Hari Belajar Menjadi Warga Digital yang Aman dan Inklusif

03 Juli 2026 Yayasan LRC Program: SIDP

Selama tiga hari, 1–3 Juli 2026, Aula Kantor Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, menjadi ruang belajar bagi 25 peserta yang terdiri atas penyandang disabilitas, perempuan, dan kaum muda. Mereka mengikuti Pelatihan Keterampilan Digital Dasar yang diselenggarakan oleh Lombok Research Center (LRC) melalui Program Skills for Inclusive Digital Participation (SIDP).

Program SIDP didanai oleh Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) sebagai bagian dari Program Akses Digital Pemerintah Inggris. Melalui pelatihan berbasis komunitas ini, LRC berupaya memperkuat keterampilan digital masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi secara aman, produktif, dan inklusif.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pengenalan program, dilanjutkan dengan pengisian baseline survey untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sebelum pelatihan dimulai. Seluruh rangkaian pelatihan dipandu oleh para Community Level Trainer (CLT) yang telah mengikuti pelatihan dari British Council, dengan pendekatan yang mengutamakan praktik langsung dan diskusi interaktif.

Pada hari pertama, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar penggunaan perangkat digital, mulai dari mengenal sistem operasi, menavigasi layar, hingga menggunakan papan ketik dan tetikus. Mereka juga mempelajari berbagai fitur aksesibilitas, seperti Magnifier dan asisten suara, yang membantu penyandang disabilitas menggunakan perangkat secara lebih mandiri.

Selain keterampilan teknis, peserta mendapatkan materi tentang cara merawat laptop dan telepon pintar agar tetap awet, serta pentingnya menjaga kesehatan fisik saat menggunakan teknologi. Melalui praktik sederhana, peserta memahami posisi duduk yang ergonomis, cara mengurangi kelelahan mata, dan kebiasaan sehat saat bekerja di depan layar. Hari pertama ditutup dengan sesi refleksi untuk meninjau kembali materi yang telah dipelajari.

Hari kedua berfokus pada pemanfaatan internet dan keamanan siber. Peserta mempraktikkan cara menghubungkan perangkat ke internet, menggunakan web browser, mengelola file digital, serta memahami fungsi berbagai fitur pencarian dan penyimpanan data.

Materi kemudian berlanjut pada pembuatan akun digital dan penyusunan kata sandi yang kuat sebagai langkah melindungi akun dari penyalahgunaan. Melalui diskusi dan praktik langsung, peserta juga belajar mengenali risiko penipuan digital serta pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi dalam aktivitas sehari-hari.

Pada hari terakhir, peserta diperkenalkan dengan Google Classroom sebagai media pembelajaran daring. Mereka mempraktikkan cara mengakses kelas, mengunduh materi, dan mengunggah tugas sebagai bagian dari pengenalan platform belajar digital.

Peserta Pelatihan Keterampilan Digital Dasar mendapatkan arahan melalui praktik langsung dari salah satu Community Level Trainer (CLT) Islahudin mengenai keamanan perangkat digital.

Pelatihan kemudian membahas keamanan dan etika di ruang digital. Peserta mempelajari cara mengenali phishing, melindungi data pribadi, menerapkan etika berkomunikasi di media digital, serta memverifikasi informasi untuk menghindari penyebaran hoaks. Mereka juga diajak memahami berbagai bentuk kekerasan berbasis digital, termasuk cyberbullying, beserta langkah-langkah pencegahannya.

Sebagai penutup, peserta memperoleh pengenalan mengenai pemanfaatan teknologi untuk mendukung kegiatan ekonomi, mulai dari penggunaan media sosial sebagai sarana promosi, dasar-dasar bisnis daring, hingga pemanfaatan layanan e-government. Materi ini memberikan gambaran bahwa keterampilan digital dapat membuka peluang baru bagi masyarakat dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan.

Rangkaian pelatihan ditutup dengan pengisian endline survey untuk mengukur perkembangan pengetahuan peserta dibandingkan dengan kondisi awal, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta.

Melalui pelatihan ini, Lombok Research Center berharap peserta tidak hanya mampu mengoperasikan perangkat digital, tetapi juga menjadi warga digital yang aman, kritis, dan bertanggung jawab. Bagi penyandang disabilitas, perempuan, dan kaum muda, keterampilan digital merupakan bekal penting untuk memperluas akses terhadap pendidikan, layanan publik, peluang kerja, maupun pengembangan usaha. Dari Desa Lendang Nangka, langkah menuju transformasi digital yang inklusif terus dibangun, memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi di era digital.