MENDORONG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN INKLUSIF DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR

Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saat ini yang mengusung pembangunan berkelanjutan harus pula disertai dengan pemahaman secara menyeluruh mengenai isu gender, disabilitas, dan inklusi sosial. Pemahaman mengenai ini tidak bisa diabaikan, karena marwah dari pembangunan berkelanjutan yang dilaksanakan oleh Pemda Lotim tidak akan terwujud apabila kondisi pemerataan keadilan dan kesejahteraan masyarakat tidak tercapai, khususnya terhadap kelompok rentang dan/atau marjinal. Untuk itu, dibutuhkan kesepahaman dan pemahaman semua pihak untuk dapat menjadikan inklusi sosial dan prinsip gender sebagai pondasi program pembangunan yang dilaksanakan.

Saat ini Indeks Pembangunan Gender (PGI) Kabupaten Lombok Timur berada pada angka 91,3 dan berada di atas rata-rata provinsi yaitu 90,5 atau berada di posisi keenam dari sepuluh daerah kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sedangkan untuk Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), Lotim masih berada di posisi keempat dengan angka 65,9. Dalam periode 2019-2021, Indeks Pembangunan Gender dan Indeks Pemberdayaan Gender di Kabupaten Lombok Timur cenderung mengalami stagnasi meskipun terdapat kenaikan (BPS, 2022)
 
Ketenagakerjaan Dan Pendidikan
Berdasarkan data Survei ketenagakerjaan Nasional (Sekrnas) menunjukkan dalam kurun waktu tiga tahun, tingkat partisipasi kerja perempuan cenderung stagnan berada dalam angka 45 persen, masih berada di bawah angka dari laki-laki yang mencapai 55 persen.

Mayoritas perempuan di Kabupaten Lombok Timur bekerja di sektor informal dengan presentase terbesar di sektor pertanian, perkebunan dan, perikanan sebesar 30 persen dan sektor perdagangan sebesar 29 persen (BPS, 2022). Kesenjangan ini tidak hanya terlihat dari angkatan kerja dan sektor saja namun, dari sisi upah yang diterima perempuan juga menunjukkan menerima lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki, yaitu perempuan menerima rata-rata 64 persen dari upah laki-laki (BPS, 2022).

Kesenjangan dalam sektor ketenagakerjaan salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Data Badan Pusat Statistik (2022) menunjukkan rata-rata perempuan di Lombok Timur mengenyam pendidikan dasar, yaitu sebesar 33,51 persen. Sementara untuk sektor kesehatan, sampai saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Lombok Timur mencapai angka 183 per 100.000 kelahiran.

Secara nasional, penyebab AKI adalah perdarahan yang dialami perempuan pasca melahirkan. Perdarahan erat kaitannya dengan anemia yang disebabkan asupan gizi dan zat besi yang kurang tercukupi bagi perempuan. Hal lainnya, perempuan masih terkendala atas akses terhadap program dan layanan kesehatan yang ada.
 
CSO (Civil Society Organization) Sebagai Mitra Pembangunan

Diperlukan berbagai upaya yang harus dilakukan untuk dapat mengurangi kesenjangan gender serta mendorong lebih banyak partisipasi perempuan maupun kelompok rentan dan/atau marjinal dalam program pembangunan di Lombok Timur. Pemerintah daerah serta berbagai CSO yang ada di Lombok Timur harus mampu membangun suatu kolaborasi yang positif untuk mencapai tujuan dari pembangunan yang berkelanjutan atau SDG’s harus semua indikator yang ada didalamnya dapat tercapai. Kesetaraan gender dan inklusi menjadi salah satu tujuan yang harus dicapai di dalam SDG’s tersebut.

Untuk itu sebagai salah satu CSO yang ada di Lombok Timur, Lombok Research Center (LRC) terus mendorong adanya pelibatan perempuan serta kelompok rentan dan/atau marjinal dalam setiap program pembangunan yang dilaksanakan. Namun tentunya dalam setiap pelaksanaan program-program pembangunan tersebut harus memuat rencana integrasi perempuan dan kelompok rentan dan/atau marjinal. Bukan hanya sebagai syarat untuk memenuhi kuota saja atau bahkan hanya sebagai pelengkap penulisan dokumen proposal program pembangunan.

Dalam mencapai kondisi tersebut maka, dibutuhkan suatu perspektif inklusi untuk mewujudkannya. Inklusi sosial tidak hanya bermakna penerimaan terhadap semua kelompok, namun juga memiliki kandungan filosofis kebersamaan yang artinya penerimaaan saja tidak cukup, namun juga harus ada pelibatan dan partisipasi yang dapat meningkatkan kapasitas setiap individu. Perspektif ini tentunya mencakup sikap dan nilai yang terimplementasi dalam setiap tindakan dan perilaku. Sementara gender merupakan elemen wajib yang juga musti mengkristal dalam perspektif, sikap dan tindakan, demi terwujudnya tujuan besar keadilan dan kesejahteraan yang proporsional.

Pembangunan yang berspektif inklusi dan kesetaraan gender akan dapat mengurangi berbagai bentuk perampasan atau kehilangan hak dan kesempatan. Pembangunan yang tidak memiliki perspektif inklusi dan kesetaraan gender akan berdampak pada rendahnya status sosial dan tingkat pendapatan, terbatasnya akses pada kesempatan kerja maupun terhadap layanan dasar, bahkan seringkali berdampak terhadap tidak adanya suara ataupun pelibatan dalam pengambilan keputusan.

Untuk itu sebagai mitra pembangunan, LRC akan terus melakukan kolaborasi positif dengan Pemda Lombok Timur terkait dengan program-program pembangunan berkelanjutan. Hal ini didasarkan pada pentingnya mengintegrasikan inklusi sosial dan gender dalam setiap perencanaan program pembangunan di Lombok Timur dan menjadi pintu masuk untuk melaksanakan pembangunan yang meghargai prinsip-prinsip kemanusiaan. Semua pihak harus dapat terangkul dalam setiap program pembangunan serta dapat merasakan manfaat dari setiap pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah Lombok Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *