Lombok Research Center (LRC): Family Gathering, Refleksi 5 Tahun, dan Penyusunan Rencana Strategis 2025–2030

Ada momen tertentu dalam perjalanan sebuah lembaga ketika waktu seakan berhenti sejenak. Bukan untuk berhenti bekerja, melainkan untuk menengok ke belakang, menyadari sejauh mana langkah yang sudah ditempuh, lalu dengan penuh keyakinan merancang jalan yang lebih panjang ke depan. Bagi Lombok Research Center (LRC), momen itu hadir pada pertengahan Agustus 2025, ketika seluruh jajaran pendiri, pembina, dan pengurus, hingga keluarga besar berkumpul dalam acara Refleksi 5 Tahun dan Penyusunan Rencana Strategis 2025–2030, yang ditutup dengan Family Gathering.

Selama tiga hari, 15–17 Agustus 2025, LRC tidak hanya berdiskusi tentang potensi, tantangan, dan strategi, tetapi juga merayakan kebersamaan yang telah terjalin selama 16 tahun perjalanannya. Acara ini dibagi ke dalam dua bagian utama: Refleksi dan Penyusunan Rencana Strategis yang berlangsung di Same Hotel Mataram (15–16 Agustus 2025), serta Family Gathering yang dilaksanakan di Pantai Nipah, Lombok Utara (17 Agustus 2025), bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80.

Menyusuri Jejak Lima Tahun Perjalanan
Pagi tanggal 15 Agustus 2025, suasana Same Hotel Mataram terasa berbeda. Di salah satu ruang konferensi, meja-meja bundar telah ditata rapi. Spanduk besar bertuliskan “Lombok Research Center: Family Gatehring, Refleksi 5 Tahun & Penyusunan Rencana Strategis 2025–2030” menjadi latar utama. Para peserta mulai berdatangan—ada yang datang dari Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Kota Mataram.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Direktur LRC, yang mengingatkan kembali perjalanan lembaga pada periode 2020-2025. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa fase lima tahun yang telah dilalui LRC saat ini adalah fase pembuktian konsistensi LRC sebagai suatu lembaga mitra pembangunan dalam menghadapi beberapa tantangan serta memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk menjawab berbagai tantangan tersebut.

Setelah itu, sesi refleksi dimulai. Satu per satu, divisi dalam LRC mempresentasikan pencapaian serta tantangan yang dihadapi mereka. Ada yang menyoroti keberhasilan tentang implementasi program yang memberikan dampak positif bagi upaya membangun kehidupan yang inklusif di wilayah dampingan LRC, ada pula yang mengulas program pemberdayaan masyarakat yang mendapatkan atensi dari pemangku kebijakan di beberapa daerah di pulau Lombok, hingga publikasi berbagai bentuk produk pengetahuan yang dihasilkan dalam periode lima tahun terakhir.

Suasana forum tidak kaku. Justru diskusi berlangsung cair, kadang diselingi gelak tawa, terutama ketika ada anggota yang menceritakan pengalaman lapangan—misalnya, bagaimana banyaknya tantangan yang dihadapi ketika melakukan pendampingan kasus kekerasan, atau kisah unik ketika meneliti pola ketahanan pangan masyarakat dengan karakter wilayah yang berbeda-beda.

Sesi refleksi hari itu ditutup dengan menonton tayangan video dokumenter singkat. Video itu merangkum perjalanan LRC: mulai dari rapat-rapat kecil di LRC, riset lapangan di desa terpencil, hingga kerja sama dengan berbagai pihak. Banyak yang terharu, bahkan ada yang diam-diam menyeka air mata. Lima tahun memang bukan waktu yang panjang, tapi cukup untuk membangun fondasi yang kokoh.

Menjahit Mimpi, Menyusun Strategi
Tanggal 16 Agustus 2025 menjadi titik penting berikutnya. Setelah menengok ke belakang, kini saatnya menatap ke depan. Agenda utama hari kedua adalah penyusunan Rencana Strategis (Renstra) LRC 2025–2030.
Sesi dibagi dalam bentuk focus group discussion (FGD). Para peserta duduk melingkar dalam kelompok-kelompok kecil untuk membicarakan tema-tema besar:

Identifikasi potensi, tantangan, dan target serta strategi masing-masing divisi lima tahun ke depan dalam mencapai target yang diinginkan. Riset dan Inovasi – Bagaimana LRC bisa menjadi pusat riset unggulan di Kawasan Timur Indonesia. Publikasi dan Jejaring – Strategi memperkuat kolaborasi dengan universitas, pemerintah daerah, hingga mitra internasional. Pemberdayaan Masyarakat – Arah program yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pengembangan Organisasi – Menata manajemen internal, membangun kultur kerja yang adaptif, serta memanfaatkan teknologi digital.
 
Diskusi berlangsung intens. Ada perdebatan, ada juga perbedaan pandangan. Namun justru di situlah letak kekuatan. Semua suara dihargai, semua ide ditampung. Bahkan beberapa peserta muda memberikan gagasan segar—misalnya memperkuat platform digital yang dimiliki LRC menjadi lebih menarik dan konsisten sebagai sarana pertukaran pengetahuan atau memanfaatkan artificial intelligence untuk analisis data riset lapangan.

Menjelang sore, hasil diskusi tiap kelompok dipresentasikan. Dari sinilah lahir rancangan besar: Renstra LRC 2025–2030. Dokumen itu memang belum final, tetapi kerangkanya sudah jelas: LRC ingin menjadi lembaga mitra pembangunan yang berbasis pada hasil riset terapan, inklusif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Acara hari kedua ditutup dengan sesi penyerahan hasil rumusan renstra lembaga kepada pengurus LRC periode 2025-2030. Dokumen renstra yang juga memuat commitment building para peserta di atas kertas warna-warni yang bertuliskan “Our Vision 2030” akan dipajang di kantor LRC sebagai pengingat bersama.

Malam harinya, dilanjutkan dengan acara makan malam bersama yang dibungkus secara santai. Momen ini juga masih dimanfaatkan oleh sebagian peserta untuk mendiskusikan ide-ide lanjutan sambil menyeruput kopi Lombok, ada juga yang bersengkrama dan bercanda dengan keluarga masing-masing. Nuansa kekeluargaan terasa kental—sebuah energi yang dibutuhkan untuk melangkah ke masa depan.

Merayakan Kebersamaan di Pantai Nipah
Setelah dua hari penuh diskusi serius, hari ketiga (17 Agustus 2025) adalah waktunya melepas penat. Pagi-pagi sekali, rombongan LRC meninggalkan penginapan untuk  berangkat menuju Pantai Nipah, Lombok Utara, salah satu pantai indah dengan pasir putih dan air laut biru jernih. Kebetulan, hari itu juga bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80. Jadi suasana semakin meriah. Bendera merah putih berkibar di sekitar area acara, sementara musik riang mengiringi kedatangan peserta.

Acara Family Gathering dimulai dengan upacara sederhana memperingati Hari Kemerdekaan. Meski hanya diikuti internal LRC dan keluarga, suasananya tetap khidmat. Ada rasa bangga, bahwa perjalanan lembaga ini juga bagian dari kontribusi kecil untuk bangsa.
Setelah upacara, kegiatan bergeser ke acara santai dan permainan. Anak-anak berlarian di tepi pantai, sementara orang dewasa ikut lomba-lomba khas 17-an: tarik tambang, balap karung, hingga lomba makan kerupuk. Gelak tawa pecah di mana-mana, membuat suasana pantai terasa hidup.

Tak hanya itu, ada juga permainan tim yang dirancang khusus untuk mempererat kebersamaan antar anggota LRC, seperti team building games. Dari yang biasanya hanya bertemu di ruang rapat, kini mereka saling bahu-membahu dalam permainan estafet air kelapa atau membangun menara pasir.
Menjelang siang, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Ikan bakar segar, plecing kangkung, dan es kelapa segar tersaji di meja panjang. Semua menyantap dengan lahap sambil berbincang santai. Tak ada sekat antara pimpinan dan staf, semua larut dalam kebersamaan.

Puncak acara Family Gathering adalah sesi refleksi keluarga. Para anggota keluarga, terutama pasangan dan anak-anak staf, diberi kesempatan menyampaikan pesan singkat. Banyak yang merasa bangga sekaligus terharu karena selama ini turut mendukung aktivitas riset yang sering membuat ayah, ibu, atau pasangan mereka sibuk. Momen ini membuat semua sadar: LRC bukan hanya soal kerja, tapi juga soal keluarga yang saling mendukung.

Sore hari, sebelum matahari tenggelam, acara ditutup dengan foto bersama di tepi pantai. Latar belakang matahari senja, laut biru, dan bendera merah putih menjadi simbol perjalanan baru: LRC melangkah ke depan dengan semangat yang sama seperti semangat kemerdekaan.
 
Menyulam Masa Lalu, Menata Masa Depan
Tiga hari kegiatan LRC di pertengahan Agustus 2025 bukan sekadar acara seremonial. Lebih dari itu, ia adalah ruang refleksi, perencanaan, sekaligus perayaan kebersamaan. Di Same Hotel Mataram, para anggota LRC belajar menengok ke belakang, menyadari capaian sekaligus kekurangan lima tahun pertama. Lalu mereka menatap ke depan, merumuskan strategi untuk lima tahun berikutnya. Sementara di Pantai Nipah, semua kebersamaan itu dirayakan dengan tawa, permainan, dan rasa syukur.

Seperti halnya perjalanan bangsa yang selalu diperingati setiap 17 Agustus, perjalanan LRC juga terus berlanjut. Masih banyak tantangan di depan, masih banyak mimpi yang ingin diwujudkan. Namun dengan fondasi yang kuat, semangat kebersamaan, dan strategi yang terarah, LRC siap melangkah menuju 2030—bukan hanya sebagai lembaga riset, tetapi juga sebagai rumah pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Dan di situlah makna sejati acara ini: menyulam masa lalu, menata masa depan, dan merayakan kebersamaan.