Ketika Aula Desa Menjadi Ruang Harapan bagi yang Rentan

Rabu pagi, 3 Desember 2025, Aula Kantor Desa Lendang Nangka terasa lebih hidup dari biasanya. Di antara kursi-kursi yang ditata rapi, terlihat lansia berjalan pelan dengan tongkat, para ibu membawa anak, dan beberapa penyandang disabilitas menempati barisan depan. Mereka datang bukan sekadar untuk menerima bantuan, tetapi untuk merasakan bahwa mereka dilihat dan diakui sebagai bagian penting dalam masyarakat.
 
Pada hari itu, sebanyak 150 paket sembako dibagikan kepada lansia, dhuafa, penyandang disabilitas, serta perempuan kepala keluarga. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) yang diinisiasi oleh Lombok Research Center (LRC) bersama LKKS Nusa Tenggara Barat.
 
Di hadapan para penerima manfaat, Ketua Umum LKKS NTB, Bunda Hj. Sinta Agathia Soedjoko M. Iqbal, menekankan bahwa program ini bukan sekadar distribusi paket sembako. Lebih dari itu, ia ingin memastikan bahwa kelompok rentan tidak berjalan sendirian dalam menghadapi hidup.
 
“Kami ingin tidak ada satu pun masyarakat merasa tertinggal. Seperti pesan Mamiq Gubernur NTB, no one left behind. Lansia dan kelompok rentan harus merasakan kehadiran negara,” ujarnya.
 
Sinta juga mengingatkan bahwa bantuan bukan hanya soal nominal atau bahan makanan. Ini adalah jembatan untuk mempererat hubungan pemerintah dan masyarakat, membuka ruang saling percaya, serta mendorong partisipasi warga dalam berbagai program pemberdayaan.
 
“Ini bentuk komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
 
Program ini menyasar dua desa: Lendang Nangka dan Lendang Nangka Utara. Penyaluran dilakukan dengan melibatkan pemerintah desa dan relawan LRC, mengumpulkan warga per dusun agar pembagian berlangsung tertib dan tepat sasaran.
 
Harapannya sederhana namun bermakna: kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi, dan dari sana kualitas hidup pelan-pelan meningkat. LKKS juga mengajak para lansia dan penerima manfaat lainnya untuk menjaga kesehatan dengan rutin memeriksakan diri ke posyandu dan layanan kesehatan yang disediakan pemerintah.
 
Di akhir acara, satu hal terasa jelas—di tengah tantangan hidup, kehadiran negara yang nyata adalah penguat harapan. Sembako mungkin tak menyelesaikan semua persoalan, tetapi bagi banyak orang, itu cukup untuk membuat hari ini terasa lebih ringan dan masa depan lebih terbuka.