Ketika Beasiswa Menjadi Penyangga Pendidikan Anak Miskin

Di Lombok Timur, akses pendidikan masih kerap ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga. Di wilayah yang sebagian warganya menggantungkan hidup pada sektor informal dan pertanian ini, anak yatim, anak dari keluarga miskin, serta anak berkebutuhan khusus berada pada posisi paling rentan untuk tertinggal—bahkan terputus—dari sekolah.
 
Di tengah situasi itu, Program Beasiswa Tunas Negeri hadir sebagai salah satu upaya menjahit celah ketimpangan tersebut. Kolaborasi Lombok Research Center (LRC), Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) NTB, dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) NTB menyalurkan beasiswa kepada 40 siswa sekolah dasar dan menengah di Lombok Timur sepanjang Desember 2025, setelah melalui proses seleksi pada Oktober–November lalu.
 
Berbeda dari program bantuan pendidikan yang sebatas menutup biaya sekolah, Beasiswa Tunas Negeri dirancang sebagai intervensi jangka menengah. Selain bantuan finansial, penerima beasiswa mendapatkan pendampingan sosial, pemantauan perkembangan belajar, hingga penguatan karakter dan literasi digital. Pendekatan ini mencerminkan kesadaran bahwa persoalan pendidikan tidak semata soal uang, tetapi juga lingkungan belajar dan dukungan psikososial.
 
Sebanyak 40 siswa penerima berasal dari berbagai sekolah negeri dan swasta, mulai dari SDN 5 Paokmotong hingga MTs RTH NW Paokmotong. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di wilayah Masbagik dan sekitarnya—kawasan dengan angka kerentanan sosial yang masih relatif tinggi.
 
Kepala SDN 01 Lendang Nangka, Saepuddin, menilai program ini sebagai bentuk kehadiran negara dan masyarakat sipil di ruang-ruang yang sering luput dari perhatian. “Ini bukan hanya bantuan sosial, tetapi bentuk komitmen bahwa semua anak, tanpa kecuali, berhak mendapat pendidikan yang layak,” ujarnya, 4 Desember 2025.
 
Nada serupa disampaikan Pengawas Sekolah Kecamatan Masbagik, Basri. Menurutnya, beasiswa semacam ini berfungsi sebagai penyangga agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak terpaksa berhenti sekolah hanya karena biaya transportasi atau perlengkapan belajar. “Dukungan kecil sering kali menentukan apakah seorang anak bertahan di sekolah atau tidak,” katanya.

Siswa penerima Beasiswa Bantuan Pendidikan “Tunas Negeri” bersama guru pendamping

Namun, di tingkat sekolah, harapan terhadap program ini melampaui bantuan finansial. Roni Kurniawan, pengajar di SDN 2 Danger, melihat peluang kolaborasi yang lebih luas. Ia berharap kerja sama antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan sekolah dapat diperluas ke isu-isu lain, seperti pendidikan inklusif dan pencegahan kekerasan terhadap anak. “Beasiswa ini penting, tapi akan jauh lebih kuat jika disertai pendampingan berkelanjutan,” ujarnya.
 
Program Beasiswa Tunas Negeri direncanakan berjalan selama 12 bulan ke depan, dengan penyaluran rutin hingga November 2026. Bagi para penyelenggara, program ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan investasi sosial jangka panjang—upaya memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak lagi menjadi penentu masa depan pendidikan anak-anak Lombok Timur.
 
Di wilayah dengan tantangan struktural yang masih kuat, beasiswa seperti ini mungkin belum menyelesaikan seluruh persoalan. Namun, ia memberi sinyal bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar jargon kebijakan, melainkan praktik yang perlahan mulai dijalankan dari tingkat paling dasar. (Lombok Research Center/HR)*