Ada satu kebohongan besar yang masih kita pelihara bersama: bahwa kekerasan terhadap anak selalu datang dalam bentuk yang kasar, brutal, dan mudah dikenali. Bahwa pelakunya selalu orang asing, dan korbannya selalu tahu—sejak awal—bahwa apa yang dialaminya adalah kejahatan. Memoar Broken Strings membongkar kebohongan itu dengan kejujuran yang menyakitkan.
Buku ini tidak mengisahkan pemerkosaan yang terjadi di gang gelap atau lewat serangan tiba-tiba. Ia menceritakan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan keseharian kita: relasi yang disebut “pacaran”, perhatian yang disebut “peduli”, dan kontrol yang dibungkus sebagai “cinta”. Justru karena itulah, kisah ini penting dibaca sebagai cermin sosial, bukan sekadar tragedi personal.
Aurélie Moeremans menulis tentang masa remajanya—usia di mana identitas belum kokoh, rasa bersalah mudah ditanamkan, dan validasi dari orang dewasa terasa seperti anugerah. Ia adalah anak yang dibesarkan untuk patuh, tidak merepotkan, dan selalu berusaha menjadi “baik”. Karakter semacam ini sering kali dipuji dalam budaya kita. Namun ironisnya, justru karakter inilah yang paling rentan dieksploitasi.
Relasi abusif dalam Broken Strings tidak dimulai dengan kekerasan seksual. Ia dimulai dengan kehadiran yang konsisten, pujian atas “kemurnian”, dan narasi bahwa korban adalah satu-satunya yang istimewa. Pelaku membangun dirinya sebagai sosok dewasa yang lebih tahu, lebih berpengalaman, dan lebih memahami dunia—sementara korban diposisikan sebagai anak yang perlu dibimbing.
Di sinilah konsep child grooming bekerja. Grooming bukan satu tindakan, melainkan proses. Ia perlahan mengikis batas, mengaburkan intuisi, dan membuat korban meragukan dirinya sendiri. Ketika penolakan muncul, ia dibingkai sebagai egoisme. Ketika korban merasa tidak nyaman, ia dituduh belum dewasa. Ketika batas dilanggar, korban diyakinkan bahwa itu “wajar”.
Yang paling berbahaya dari grooming adalah kemampuannya menyamar sebagai cinta.
Kita hidup di masyarakat yang sering kali memaklumi relasi usia timpang dengan alasan “suka sama suka”. Kita juga terbiasa menilai kecemburuan sebagai tanda cinta, dan kontrol sebagai bentuk kepedulian. Dalam kerangka ini, seorang remaja yang terus diawasi ponselnya, dibatasi pergaulannya, dan ditekan secara emosional sering kali justru dianggap “beruntung” karena dicintai begitu intens.
Broken Strings menunjukkan betapa fatalnya cara berpikir ini.
Ketika kekerasan seksual akhirnya terjadi, korban tidak langsung menyebutnya sebagai pemerkosaan. Dan ini bukan kebodohan—ini adalah hasil dari mitos yang kita tanamkan bersama. Kita mengajarkan bahwa pemerkosaan itu harus keras, berdarah, dan dilakukan orang asing. Kita jarang mengajarkan bahwa pemerkosaan juga bisa terjadi dalam relasi, tanpa teriakan, tanpa pukulan, diiringi janji pernikahan.
Akibatnya, korban justru menyalahkan diri sendiri. “Mungkin aku yang terlalu sensitif.” “Mungkin aku yang belum cukup dewasa.” “Mungkin ini harga dari cinta.”
Yang lebih menyedihkan, lingkungan sekitar sering kali ikut memperkuat kebingungan ini. Dalam memoar ini, kegagalan bukan hanya milik pelaku, tetapi juga milik sistem: institusi perlindungan anak yang gagal membaca manipulasi, orang dewasa yang terjebak narasi romantis, dan media yang lebih tertarik pada sensasi ketimbang keselamatan anak.
Alih-alih bertanya, “Mengapa pria dewasa ini mendekati anak di bawah umur?”, publik justru sibuk menilai moral korban. Ia dicap durhaka, manja, atau “terlalu cepat dewasa”. Pertanyaan yang seharusnya diarahkan pada pelaku dialihkan ke korban. Ini bukan kasus tunggal—ini pola.
Memoar ini juga menyingkap bentuk kekerasan modern yang sering luput dari pemahaman hukum dan sosial: pemerasan berbasis konten seksual, ancaman bunuh diri, dan teror psikologis yang dilakukan lewat gawai. Kekerasan tidak lagi membutuhkan sentuhan fisik. Ia bisa hidup di layar kecil, menyusup ke kamar tidur, dan mengontrol seseorang dari jarak jauh.
Dalam konteks ini, kalimat “kenapa tidak melapor?” terdengar naif. Bagaimana mungkin korban melapor ketika bukti ada di tangan pelaku, ketika ancaman menyasar keluarganya, dan ketika rasa malu ditanamkan begitu dalam hingga korban merasa hidupnya sudah berakhir sebelum sempat dimulai?
Broken Strings tidak menawarkan solusi sederhana. Buku ini tidak ditutup dengan kemenangan hukum atau keadilan instan. Yang ditawarkan justru sesuatu yang lebih jujur: kesadaran bahwa bertahan hidup dari grooming adalah proses panjang, dan bahwa kebebasan tidak selalu datang bersamaan dengan usia dewasa.
Sebagai masyarakat, kita perlu berhenti bertanya, “Kenapa korban tidak pergi?” dan mulai bertanya, “Mengapa pelaku dibiarkan begitu lama?” Kita perlu berhenti meromantisasi relasi yang timpang dan mulai mengajarkan anak-anak—terutama anak perempuan—bahwa cinta tidak seharusnya membuat mereka takut, kecil, atau kehilangan diri.
Memoar ini bukan hanya tentang satu gadis dan satu pelaku. Ia adalah peringatan tentang bagaimana kekerasan bisa tumbuh subur di ruang abu-abu yang kita biarkan atas nama cinta. Dan selama kita masih lebih nyaman dengan mitos romantis daripada kenyataan pahit, kisah seperti ini akan terus berulang—dengan nama dan wajah yang berbeda.
Membaca Broken Strings berarti menerima satu kenyataan yang tidak nyaman: bahwa melindungi anak bukan hanya soal hukum, tetapi soal keberanian kita untuk membongkar narasi yang selama ini kita anggap normal.
Download : Broken Strings – Aurélie Moeremans

