Yasfa Aulia: Bertumbuh di Tengah Keterbatasan, Melangkah dengan Harapan

Di sebuah dusun kecil bernama Sekomak, Desa Paokmotong, Lombok Timur, Yasfa Aulia tumbuh dalam kesederhanaan yang sunyi namun penuh perjuangan. Usianya baru menginjak 14 tahun, dan saat ini ia duduk di bangku kelas dua MTs NW RTH Paok Motong. Di balik senyumnya yang pemalu, tersimpan perjalanan panjang seorang anak yang sejak kecil harus berjuang lebih keras untuk bisa belajar seperti anak-anak lainnya.
 
Yasfa adalah anak pertama dari pasangan Murzani dan Riadah. Ayahnya bekerja sebagai kuli panggul di pasar, memikul beban dagangan orang lain setiap hari, sementara ibunya menghabiskan waktu sebagai buruh cuci demi membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Dari penghasilan yang tidak menentu itulah, Yasfa dan adik perempuannya dibesarkan—dengan harapan sederhana: agar anak-anak mereka bisa bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
 
Secara fisik, Yasfa tampak sehat dan tinggi seperti anak seusianya. Namun sejak duduk di bangku sekolah dasar, orangtuanya mulai menyadari bahwa Yasfa belajar dengan cara yang berbeda. Ia kerap merasa cemas, sulit fokus, dan tidak mudah menerima pelajaran. Hari-hari di sekolah menjadi tantangan besar baginya—bukan karena ia tidak mau belajar, tetapi karena ia harus melawan kegelisahan dalam dirinya sendiri.
 
Dengan harapan besar agar Yasfa mendapatkan pendidikan yang sesuai, orangtuanya sempat menyekolahkannya di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Lombok Timur. Namun kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan. Yasfa merasa asing dan tidak nyaman. Ia jarang masuk sekolah, dan hanya mampu bertahan beberapa minggu. Hati orangtuanya kembali diliputi kebimbangan—antara takut salah mengambil keputusan dan takut kehilangan semangat belajar anaknya.
 
Akhirnya, Yasfa dipindahkan ke sekolah reguler. Keputusan yang diambil dengan penuh keraguan itu justru menjadi titik balik. Perlahan, Yasfa kembali mau bersekolah. Meski masih malu-malu, ia mulai berani hadir di kelas, mengenal lingkungan, dan beradaptasi dengan teman-teman barunya. Ia diterima apa adanya. Sekolah kembali menjadi ruang yang aman baginya—tempat ia bisa tertawa, bercerita, dan merasa menjadi bagian dari dunia.
 
Namun perjalanan Yasfa masih jauh dari mudah. Hingga kelas enam sekolah dasar, ia belum mampu membaca dan mengeja. Orangtuanya hanya bisa menemani dengan sabar, tanpa banyak pengetahuan dan tanpa biaya tambahan. Yang mereka miliki hanyalah keyakinan: selama Yasfa mau sekolah, mereka tidak akan menyerah.
 
Kesabaran itu perlahan berbuah. Memasuki kelas satu MTs, dengan bantuan guru dan pendampingan belajar di rumah, Yasfa mulai bisa mengeja huruf demi huruf. Kata demi kata. Hingga akhirnya, ia mampu membaca sederhana—meski belum lancar dan masih membutuhkan bantuan. Kini, Yasfa sudah bisa berhitung penjumlahan sederhana, menghafal abjad, dan mengenali warna. Bagi orang lain, mungkin itu hal kecil. Namun bagi Yasfa dan keluarganya, itu adalah kemenangan besar.

Yasfa Aulia bersama guru pendamping sesaat setelah menerima beasiswa bantuan pendidikan “Tunas Negeri” yang diserahkan setiap bulan.

benar-benar hilang. Mereka takut Yasfa tertinggal, takut ia diperlakukan berbeda, takut ia tidak mampu menyelesaikan sekolah. Dengan penghasilan yang pas-pasan, harapan mereka tidak muluk: Yasfa bisa bersekolah dengan layak dan lulus pendidikan menengah.
 
Harapan itu menemukan jalannya ketika Yasfa menjadi penerima Program Beasiswa Tunas Negeri, hasil kolaborasi LKKS NTB, BAZNAS NTB, dan Lombok Research Center (LRC). Beasiswa ini hadir bukan hanya sebagai bantuan dana, tetapi sebagai penguat semangat—bahwa Yasfa tidak berjalan sendiri, bahwa perjuangannya dilihat dan dihargai.
 
Kebanggaan menyelimuti kedua orangtuanya. Bagi mereka, bantuan ini adalah bentuk nyata kepedulian terhadap keluarga kecil yang selama ini berjuang dalam diam. Sejak menerima beasiswa dan pembinaan, Yasfa semakin rajin bersekolah. Ia tidak pernah absen, belajar lebih tekun, dan berusaha sekuat tenaga untuk membanggakan kedua orangtuanya.
 
Kini, orangtua Yasfa kembali berani bermimpi. Mereka percaya, suatu hari nanti Yasfa akan memiliki keahlian yang bisa ia kembangkan. Mereka yakin, anak yang dulu sulit mengeja huruf kini mampu melangkah lebih jauh—bahkan hingga bangku perguruan tinggi.
 
Perjalanan Yasfa Aulia mengajarkan kita satu hal penting: bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Dengan cinta orangtua, ketekunan, dan dukungan yang tepat, harapan selalu menemukan jalannya. Kisah Yasfa bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang keberanian untuk terus melangkah, meski pelan—namun penuh keyakinan.