Bu Oni, Penjahit yang Menjahit Hidup dari Desa Banjar Sari

Di pinggir jalan Desa Banjar Sari, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, ada sebuah kios menjahit sederhana yang belum memiliki papan nama. Namun warga sekitar mengenalnya baik. Dari kios kecil itulah lahir seragam sekolah, gaun pesta, hingga pakaian sehari-hari yang rapi dan sesuai pesanan.
 
Pemiliknya adalah Laila Asmaroni, perempuan yang lebih akrab disapa Bu Oni. Ia adalah penjahit desa yang pelan-pelan membangun usaha dari bawah, dengan kesabaran dan ketekunan yang tak banyak terlihat.
 
“Dulu saya cuma punya satu mesin jahit,” katanya ketika kami berkunjung pada Kamis, 22 Januari 2025. “Sekarang alhamdulillah sudah punya empat.”
 
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Bu Oni, empat mesin jahit adalah penanda perjalanan panjang: tentang kerja keras, tentang mimpi kecil yang tumbuh menjadi sumber penghidupan.
 
Kios Kecil yang Menjadi Ruang Hidup
Kios yang ditempatinya sejak enam tahun terakhir tampak cukup luas. Empat mesin jahit diletakkan saling berhadapan, seolah menjadi saksi aktivitas yang nyaris tak pernah berhenti. Di samping ruangan ada etalase kaca tempat menyimpan hasil jahitan dan perlengkapan menjahit.
 
Di depan kios berdiri manekin yang memajang gaun, sementara gulungan benang warna-warni tersusun rapi menurut warna. Bu Oni juga memiliki lemari plastik besar yang dipenuhi kain-kain berbagai jenis—bahan mentah yang menunggu diubah menjadi pakaian.
 
Kios itu bukan hanya tempat bekerja. Bagi Bu Oni, itu adalah ruang hidup: tempat ia mencari nafkah, mengurus keluarga, dan tetap dekat dengan anak-anaknya.
 
Minat yang Tumbuh Sejak Lama
Ketertarikan Bu Oni pada dunia jahit-menjahit sudah muncul sejak sebelum ia menikah dan pindah ke Lombok Timur. Saat masih lajang, ia sempat mengikuti beberapa kursus menjahit di balai pelatihan.
 
Ia mengikuti kursus secara beruntun pada 2009, 2010, hingga 2011, dua kali di Lombok Tengah dan sekali di Lombok Timur.
 
Kini, kesibukan membuatnya tak lagi sempat mengikuti pelatihan tatap muka.
 
“Kalau sekarang sudah nggak sempat ikut kursus offline,” ujarnya. “Lebih sering lihat tutorial di Youtube saja.”
 
Bagi Bu Oni, belajar tidak pernah berhenti. Ia hanya berganti cara.
 
Memulai dari Satu Mesin Jahit
Bu Oni mulai menjahit secara mandiri sekitar tahun 2014. Saat itu ia bekerja dari rumah dengan satu mesin jahit yang dibeli dari hasil tabungannya.
 
Di awal perjalanan, ia belum banyak dikenal. Pesanan pun belum ramai. Untuk bertahan, ia bekerja sama dengan kelompok menjahit yang sudah lebih besar di desanya. Ketika kelompok itu mendapat order dalam jumlah banyak, Bu Oni diminta membantu menyelesaikan sebagian pesanan.

Dari situlah namanya mulai dikenal warga.
“Awalnya iklannya cuma dari mulut ke mulut,” katanya. “Saya kan kader, jadi saya promosikan waktu ada kegiatan desa.”
 
Reputasi Bu Oni tumbuh pelan-pelan, melalui kepercayaan orang-orang sekitar.
 
Seiring meningkatnya pesanan, Bu Oni mengambil keputusan penting: memindahkan tempat usahanya ke lokasi yang lebih strategis.
 
Ia menabung bertahun-tahun, dibantu suami, hingga akhirnya mampu membangun kios kecil di pinggir jalan yang mudah dijangkau pelanggan. Ia juga membeli mesin jahit tambahan agar pekerjaan lebih cepat selesai.
 
Sejak pindah ke lokasi tersebut, jumlah pesanan meningkat. Jika order sedang ramai, suaminya dan dua kerabat ikut membantu. Jika tidak terlalu banyak, Bu Oni bekerja sendiri, ditemani anak-anaknya sepulang sekolah.
 
Ia menikmati pekerjaannya karena memberinya penghasilan sekaligus fleksibilitas sebagai seorang ibu.
 
Kepercayaan dari Sekolah dan Pelanggan Tetap
Bu Oni dikenal karena jahitannya yang rapi. Ia juga terbuka terhadap komplain pelanggan. Jika hasilnya belum sesuai, ia bersedia memperbaiki hingga pelanggan puas.
 
Kini, ia memiliki pelanggan tetap, tidak hanya dari desa setempat tetapi juga dari luar desa. Bahkan dua sekolah di Kecamatan Labuhan Haji sudah bermitra dengannya selama dua tahun terakhir.
 
“Biasanya yang order tiap tahun itu PASKIB SMP 1 Labuhan Haji,” ungkapnya. “Karena setiap tahun model seragamnya beda.”
 
Bagi Bu Oni, pesanan itu bukan hanya soal kain, tetapi juga soal kepercayaan.
 
Begadang dan Dimarahi Pelanggan
Namun perjalanan usaha tidak selalu mulus. Tantangan terbesar Bu Oni adalah keterbatasan tenaga ketika pesanan menumpuk. Jahitan kadang terlambat selesai, dan pelanggan tidak selalu sabar.
 
Beberapa bulan lalu, seorang pelanggan sempat datang dengan amarah.
 
“Dia marah-marah karena bajunya belum selesai,” kata Bu Oni sambil tertawa mengingatnya. “Dia ambil kainnya, mau dipindah ke penjahit lain.”
 
Ia menganggap itu bagian dari risiko pekerjaan.
 
Saat menerima borongan besar dari sekolah, Bu Oni dan suaminya sering bekerja hingga dini hari.
 
“Kita keroyokan sampai subuh,” ujarnya. “Pernah tiga hari berturut-turut begadang supaya selesai.”
 
Di balik pakaian yang rapi, ada malam-malam panjang yang jarang diketahui orang.
 
Belajar Mengelola Usaha dengan Lebih Rapi
Selama bertahun-tahun, Bu Oni menjalankan usaha tanpa pembukuan. Baginya, untung rugi cukup dirasakan saja.
 
Namun sejak mengikuti pelatihan UMKM dari Lombok Research Center pada 2024–2025, ia mulai melakukan pencatatan keuangan sederhana.
 
“Yang ditulis cuma uang masuk sama uang keluar,” katanya.
 
Meski sederhana, hal itu membantunya mengelola usaha dengan lebih teratur dan mulai merencanakan stok serta harga.
 
Mimpi Baru: Digital dan Nama Brand
Bu Oni masih memiliki keinginan untuk belajar lebih jauh, terutama soal pemasaran digital. Ia ingin mencoba menjual lewat Shopee atau TikTok Shop, membuat brosur, iklan, dan desain kemasan agar produknya lebih menarik.
 
Ia juga sudah memiliki nama usaha yang dikenal di Facebook: Oni Taylor. Namun ia merasa nama itu terlalu biasa.
 
Ia berharap suatu hari usahanya punya brand yang lebih unik dan mudah diingat.
 
Di kios sederhana tanpa papan nama itu, Bu Oni terus bekerja. Dengan mesin-mesin jahitnya, ia bukan hanya menjahit pakaian, tetapi juga menjahit masa depan keluarganya—pelan, tekun, dan penuh kesabaran.