Tim Lombok Research Center (LRC) menyambangi Desa Sikur Selatan, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, pada Januari 2026. Desa ini merupakan salah satu wilayah binaan dalam Program INKLUSI. Kunjungan tersebut dilakukan di tengah menguatnya kekhawatiran soal praktik rentenir dan pinjaman online yang kian menjerat warga desa.
Di kantor desa, tim LRC bertemu langsung dengan Kepala Desa Sikur Selatan. Pembicaraan mereka berfokus pada persoalan klasik yang terus berulang: warga yang terdesak kebutuhan ekonomi, lalu terperangkap dalam pinjaman berbunga tinggi.
Rentenir dan layanan pinjaman online memang menawarkan jalan pintas. Prosesnya cepat, tanpa banyak syarat. Namun, kemudahan itu kerap dibayar mahal. Bunga mencekik, tenor pendek, serta tekanan penagihan membuat banyak warga kesulitan keluar dari lilitan utang.
Kepala Desa Sikur Selatan menyebut dampaknya tidak berhenti pada soal ekonomi. Utang, kata dia, sering memicu persoalan sosial yang lebih luas.
“Masyarakat bisa terjebak dalam lingkaran utang yang sulit dibayar. Dampaknya bisa merembet pada kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, sampai gangguan kesehatan mental,” ujarnya.
Pemerintah desa, menurut dia, terus berupaya melakukan sosialisasi agar warga tidak mudah tergiur tawaran pinjaman instan. Ia mengingatkan bahwa iming-iming pencairan cepat sering kali menyembunyikan risiko besar di belakangnya.
“Ini selalu kami sampaikan dalam setiap pertemuan desa bersama para kepala wilayah. Prosesnya memang cepat, tapi bunga yang dibebankan sangat besar,” katanya.
Dalam pertemuan itu, LRC menawarkan dukungan untuk memperkuat literasi keuangan masyarakat sekaligus membuka akses pembiayaan yang lebih aman. Salah satu upaya yang tengah dijalankan adalah kolaborasi dengan Bank NTB Syariah melalui Program Mawar Emas (Melawan Rentenir Berbasis Masjid).
Program ini menyasar desa-desa binaan yang memiliki potensi UMKM. Skema pembiayaannya dirancang tanpa bunga dan tanpa agunan, sehingga dinilai lebih berpihak pada pelaku usaha kecil di desa.
“Harapannya, pelaku UMKM yang membutuhkan modal bisa terbantu. Selain nol bunga, program ini juga tanpa jaminan,” ujar Suherman, Direktur LRC.
LRC menilai akses pembiayaan yang adil dapat menjadi kunci agar masyarakat desa lebih mandiri secara ekonomi. Pemerintah desa pun diharapkan memainkan peran lebih aktif untuk melindungi warganya dari praktik lintah darat yang terus menggerus kehidupan rumah tangga.
Koordinasi ini diharapkan melahirkan langkah strategis antara pemerintah desa dan organisasi masyarakat sipil dalam memperkuat ekonomi warga, menghapus kesenjangan, serta mendorong pembangunan Desa Sikur Selatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

