Lendang Belo Bersinar: Ikhtiar Kolektif Cegah Kekerasan dan Perkawinan Anak

Hujan yang mengguyur selama tiga hari tak menyurutkan langkah warga Desa Lendang Belo, Lombok Timur. Rabu pagi, 25 Februari 2025, aula Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat dipenuhi perwakilan masyarakat: aparat desa, tokoh agama, kader perempuan, pemuda, hingga lansia turut hadir. Mereka hadir dalam Sosialisasi dan Pembentukan Kelompok Konstituen (KK) Program INKLUSI—sebuah langkah awal memperkuat agenda pencegahan perkawinan anak dan kekerasan terhadap perempuan di tingkat desa.
 
Acara dibuka Sekretaris Desa Lendang Belo, Muhammad Kamran, mewakili kepala desa yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, Kamran menyebut kehadiran Program INKLUSI yang dibawa Lembaga Riset dan Kajian (LRC) sebagai momentum penting bagi penguatan sumber daya manusia desa.
 
“Program pemberdayaan di desa kami memang masih sangat minim. Kehadiran INKLUSI ini sangat berarti dan bermakna. Kami siap mendukung setiap program yang akan dijalankan,” ujar Kamran.
 
Ia menilai antusiasme warga menjadi penanda kuatnya harapan terhadap program tersebut. Di tengah cuaca yang tak bersahabat, partisipasi tetap tinggi. “Kami berharap masyarakat dapat menyerap banyak pengetahuan karena tujuan akhirnya adalah membangun SDM Desa Lendang Belo,” katanya.
 
Perluasan Fase II
Sosialisasi dan pembentukan Kelompok Konstituen ini merupakan bagian dari implementasi Program INKLUSI Fase II. Lendang Belo menjadi satu dari lima desa tambahan yang didampingi LRC pada fase ini. Sebelumnya, lembaga yang berbasis di Lombok Timur itu telah mendampingi 20 desa dalam fase awal program.
 
Koordinator Program INKLUSI LRC, Baiq Titis Yulianty, menjelaskan bahwa perluasan fase kedua ini didasarkan pada kebutuhan penguatan kapasitas desa-desa yang dinilai strategis. “Kami melihat pentingnya memperluas dampingan agar upaya pencegahan perkawinan anak dan kekerasan terhadap perempuan semakin sistematis,” ujarnya.
 
Menurut Titis, LRC bukan hanya lembaga kajian, tetapi juga melakukan pendampingan dan advokasi di berbagai isu: pertanian, perubahan iklim, tata kelola desa, hingga perencanaan dan penganggaran yang responsif terhadap kelompok rentan.
 
Dalam konteks Program INKLUSI, fokus diarahkan pada upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat desa. “Isu seperti perkawinan anak dan kekerasan perempuan tidak bisa diselesaikan secara individual. Harus ada pendekatan kelompok,” kata Titis.

Peserta Sosialisasi dan Pembentukan kelompok Konstituen di Desa Lendang Belo sangat antusias bertanya mengenai Program INKLUSI. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula BUM Desa Lendang Belo pada, Rabu (25/02/2026).

Strategi Kolektif
Karena itu, pembentukan Kelompok Konstituen menjadi strategi utama. Kelompok ini beranggotakan perwakilan berbagai unsur masyarakat dan bekerja secara sukarela. Mereka akan mendapat peningkatan kapasitas, penguatan jejaring, serta pendampingan agar mampu menjadi perpanjangan tangan program di tingkat akar rumput.
 
“Kami ingin menyentuh seluruh masyarakat Desa Lendang Belo. Setiap unsur yang hadir hari ini adalah representasi dari masyarakat yang ada di belakangnya,” ujar Titis.
 
Baginya, investasi terbesar bukan pada proyek fisik, melainkan pada manusia. Pengetahuan yang diperoleh, jejaring yang terbangun, dan pengalaman advokasi yang dijalani akan menjadi aset desa dalam jangka panjang.
 
Program ini dirancang berkelanjutan. Pemerintah desa pun berharap kelompok yang terbentuk benar-benar lahir dari kesadaran sukarela, bukan sekadar formalitas. “Karena ini program jangka panjang, kami berharap KK yang terbentuk mau bekerja sama untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Kamran.
 
Lendang Belo Bersinar
Di akhir pertemuan, peserta menyepakati pembentukan Kelompok Konstituen dengan nama “KK Lendang Belo Bersinar”. Haerul Ruswadi didapuk sebagai ketua, Abdul Hamid sebagai sekretaris, dan Sriningsih sebagai bendahara.
 
Nama “Bersinar” mencerminkan harapan agar desa ini mampu menjadi contoh perubahan—bahwa dari ruang-ruang diskusi sederhana di aula BUMDes, kesadaran baru dapat tumbuh.
 
Tantangan tentu tidak ringan. Tradisi, tekanan ekonomi, dan relasi kuasa kerap menjadi tembok tebal dalam upaya mencegah perkawinan anak dan kekerasan terhadap perempuan. Namun langkah awal telah diambil: membangun wadah kolektif, memperkuat kapasitas warga, dan menegaskan komitmen pemerintah desa.
 
Di tengah langit yang masih menyisakan mendung, Lendang Belo memilih menyalakan cahaya kecilnya sendiri. Sebuah upaya agar inklusi tak berhenti sebagai istilah program, melainkan menjadi praktik hidup sehari-hari.