Setiap pagi, Namara dan Naufal mengenakan seragam yang sama—putih dan merah. Namun, di balik warna yang seragam itu, mereka membawa cerita hidup yang jauh dari kata sederhana. Cerita tentang kehilangan, tentang keterbatasan, dan tentang perjuangan kecil agar tetap bisa duduk di bangku sekolah.
Namara baru berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, suaranya pelan, dan langkahnya sering tampak ragu. Sejak ayahnya meninggal saat ia berusia empat tahun, hidup Namara berubah. Ibunya harus bekerja di luar daerah demi bertahan hidup, sementara dua saudara laki-lakinya juga merantau. Namara pun dititipkan di rumah sahabat ibunya, di Kampung Dalem Lauk, Desa Lendang Nangka.
Setiap hari, ia berangkat ke SDN 1 Lendang Nangka dengan bekal seadanya. Kadang tanpa uang jajan, kadang tanpa sarapan yang cukup. Bagi Namara, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang di mana ia berharap bisa merasa aman.
“Dulu Namara sering tidak masuk sekolah karena mengeluh tidak punya uang belanja,” tutur Baiq Laela Zahrotin, gurunya.
Tak jauh berbeda, di kelas lain, Naufal menjalani hari-hari dengan beban yang tak seharusnya dipikul anak seusianya. Di usia sembilan tahun, An Naufal Rahmadi Akbar hidup hanya bersama kakaknya yang masih berusia 12 tahun. Ibunya telah pergi, sementara ayahnya tinggal jauh di kecamatan lain dan bekerja sebagai penjual cilok.
Seminggu sekali, ayahnya datang membawa beras, lauk-pauk, dan uang belanja—bekal agar dua anak itu bisa bertahan selama beberapa hari ke depan. Selebihnya, Naufal dan kakaknya belajar mandiri: memasak nasi sendiri, menggoreng telur, menyiapkan seragam, dan memastikan diri berangkat ke sekolah tepat waktu.
Naufal dikenal pendiam dan pemalu. Ia tidak banyak bicara, namun selalu patuh, santun, dan rajin. Di tengah keterbatasan, semangat belajarnya tak pernah benar-benar padam.
Melihat kondisi Namara dan Naufal, pihak SDN 1 Lendang Nangka menyadari satu hal penting: anak-anak ini tidak kekurangan kemauan, mereka hanya kekurangan dukungan. Karena itu, sekolah mengusulkan keduanya sebagai calon penerima Beasiswa Tunas Negeri, program kolaborasi LKKS NTB, BAZNAS NTB, dan Lombok Research Center (LRC).

Pada Desember 2025, harapan itu terjawab. Namara dan Naufal resmi menjadi bagian dari 40 siswa penerima manfaat Beasiswa Tunas Negeri. Sejak saat itu, perubahan kecil namun bermakna mulai terlihat.
Namara yang dulu sering absen kini hampir tak pernah melewatkan satu hari pun di sekolah. Ia lebih disiplin, lebih rajin mengerjakan tugas, dan wajahnya tampak lebih cerah. Sementara Naufal mulai berani mengangkat tangan di kelas, lebih aktif, dan semakin percaya pada kemampuannya sendiri.
“Anak-anak ini sebenarnya hanya butuh diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian,” ujar Baiq Laela.
“Beasiswa ini bukan sekadar bantuan uang. Ini tentang rasa diperhatikan, tentang tumbuhnya kepercayaan diri.”
Bagi pihak sekolah, Beasiswa Tunas Negeri menjadi lebih dari sekadar program bantuan. Ia menjadi penguat upaya menciptakan sekolah ramah anak—sekolah yang aman, bebas perundungan, dan memberi ruang bagi anak-anak rentan untuk tumbuh tanpa rasa takut.
Di tengah segala keterbatasan, Namara menyimpan mimpi yang begitu tulus. Ia ingin menjadi dokter, agar bisa membantu anak-anak lain tetap sehat. Sementara Naufal, dengan caranya yang sederhana, ingin terus bersekolah dan menjadi anak yang membanggakan.
Mimpi-mimpi itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Namara dan Naufal, mimpi adalah alasan untuk terus datang ke sekolah setiap pagi.
Melalui Beasiswa Tunas Negeri, langkah kecil mereka di bangku sekolah kini terasa lebih ringan. Dengan dukungan sekolah, pendampingan lembaga, dan kepedulian banyak pihak, harapan itu dijaga bersama—agar anak-anak seperti Namara dan Naufal tidak kehilangan masa depan hanya karena mereka lahir dalam keterbatasan.
Karena setiap anak, apa pun latar belakangnya, berhak bermimpi. Dan lebih dari itu, berhak dibantu untuk mewujudkannya.

