Pagi itu, Kamis, 5 Februari 2026, tim Lombok Research Center (LRC) tak langsung bicara soal pelatihan atau bantuan bibit. Mereka datang ke Desa Labuhan Haji, Lombok Timur, dengan agenda yang lebih mendasar: asesmen. Mengukur persoalan di lapangan sebelum menjalankan proyek pemanfaatan biostimulan rumput laut untuk pertanian berkelanjutan.
Proyek yang didanai Penabulu dan akan berlangsung Februari–Juli 2026 itu tak ingin berjalan dengan asumsi. LRC memulai dengan memetakan kondisi riil desa—dari kualitas tanah, pola tanam, hingga tren produksi petani dalam beberapa tahun terakhir.
Labuhan Haji bukan desa tanpa modal. Luas sawahnya mencapai 217 hektar, lahan kering 145 hektar, serta perkebunan sekitar 12 hektar. Warganya menanam padi, hortikultura, dan palawija. Di sisi lain, desa ini memiliki garis pantai sekitar 2,5 kilometer dengan produksi rumput laut—sargassum, bulu kambing, dan kotoni—yang bisa mencapai 5–10 ton per tahun.
“Potensinya besar, baik di darat maupun di laut,” kata Kepala Desa Labuhan Haji, Pahminuddin. Ia menyambut asesmen tersebut sebagai langkah awal yang penting sebelum program dijalankan.
Namun, data yang dikumpulkan LRC menunjukkan adanya persoalan serius. Dalam riset 2025 terhadap 100 petani, ditemukan penurunan hasil panen cabai sebesar 20–30 persen dalam dua tahun terakhir. Rata-rata produksi yang sebelumnya 5–6 ton per hektar merosot menjadi sekitar 3,8–4 ton.
Dari asesmen itu, LRC mengidentifikasi beberapa faktor penyebab: penggunaan pupuk kimia berlebih yang menurunkan kualitas tanah, cuaca ekstrem, serta pola tanam yang kurang terencana. Tanah kehilangan daya dukungnya, sementara biaya produksi terus meningkat.
“Karena itu, sebelum masuk ke tahap implementasi, kami perlu memastikan intervensi yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan petani,” ujar Baiq Titis Yulianty, Koordinator Program LRC.
Asesmen tak hanya dilakukan lewat diskusi di kantor desa. Tim LRC berdialog dengan petani, meninjau lahan, serta memetakan potensi bahan baku lokal—terutama rumput laut sargassum yang selama ini kerap dianggap limbah pesisir. Dari situ muncul gagasan mengolahnya menjadi biostimulan dan biopestisida organik.
Bagi LRC, pendekatan ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan respons atas temuan lapangan. Ketergantungan pada input kimia eksternal dinilai membuat petani rentan, baik secara ekonomi maupun ekologis. Pemanfaatan sumber daya lokal diharapkan menjadi jalan keluar yang lebih berkelanjutan.
Hasil asesmen itu pula yang menjadi dasar penetapan target program: 75 petani akan dilibatkan dalam pelatihan pembuatan biostimulan dan biopestisida, serta mendapat dukungan bibit cabai dan alat semprot. Pendekatan inklusif juga dirancang dengan melibatkan perempuan dan anak muda desa.
Proses asesmen ini menjadi fondasi proyek enam bulan ke depan. Di Labuhan Haji, perubahan tak dimulai dari distribusi bantuan, melainkan dari pembacaan atas tanah yang mulai lelah—dan harapan agar laut serta darat bisa kembali saling menguatkan.

