Di tengah upaya pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengejar target penurunan kemiskinan ekstrem, sebuah gerakan kolaboratif lahir dengan wajah yang lebih dekat ke masyarakat. LKKS NTB dan Bank NTB Syariah resmi meluncurkan program Mawar Emas—Melawan Rentenir Berbasis Masjid, sebuah inovasi pembiayaan tanpa bunga yang menghadirkan harapan baru bagi perempuan pelaku usaha kecil.
Program ini bukan sekadar skema pinjaman. Ia adalah ruang pemulihan martabat ekonomi masyarakat, terutama kelompok rentan yang selama ini mencari permodalan dengan risiko jeratan lintah darat. Melalui Mawar Emas, perempuan UMKM kini memiliki jalan permodalan yang halal, inklusif, dan dapat mereka akses langsung dari lingkungan desa sendiri.
Peluncuran berlangsung pada 3 Desember 2025 di Aula Kantor Desa Lendang Nangka, dalam rangkaian Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) yang diselenggarakan oleh Lombok Research Center (LRC). Suasana aula penuh oleh para pemangku kepentingan: Ketua Umum LKKS NTB Bunda Hj. Sinta M. Iqbal, , Business Manager Ritel dan Mikro Bank NTB Syariah Muh. Nur Rahmat, Kepala DP3AP2KB Drs. H. Surya Bahari, jajaran OPD Lombok Timur, camat, para kepala desa dari 15 desa binaan LRC, hingga NGO dan masyarakat.
Dalam forum itu, Bunda Sinta menegaskan bahwa penyelesaian masalah kemiskinan tidak dapat berdiri sendiri. NTB memerlukan gotong royong multipihak, terlebih dengan target kemiskinan ekstrem nol persen pada 2029 sebagaimana tertuang dalam RPJMD. Kolaborasi, katanya, adalah fondasi.
Bank NTB Syariah mengalokasikan Rp300 juta per cabang untuk mendukung Mawar Emas. Pinjaman diberikan mulai dari Rp1 juta tanpa riba, menyasar perempuan pelaku UMKM di desa—kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan ekonomi harian.
Di titik inilah peran Lombok Research Center (LRC) menjadi kunci. Bukan hanya sebagai penyelenggara kegiatan, LRC mengorganisir serta memfasilitasi terbentuknya kelompok penerima pembiayaan di Desa Lendang Nangka dan Desa Lendang Nangka Utara. Mulai dari pendataan calon penerima manfaat, pendampingan administrasi, hingga mempersiapkan pertemuan-pertemuan kelompok untuk memastikan program berjalan dengan tertib dan tepat sasaran. Berkat fasilitasi tersebut, Mawar Emas tak sekadar hadir sebagai program, tetapi sebagai sistem yang siap dijalankan di tingkat akar rumput.
Peluncuran resmi ditandai dengan penyerahan pinjaman simbolis kepada perwakilan kelompok UMKM perempuan yang telah difasilitasi LRC. Dua desa ini kemudian dijadikan pilot project, sebuah model awal yang nantinya dapat direplikasi ke wilayah lain.
Program Mawar Emas bukan hanya memberikan akses modal, tetapi menanamkan kembali kepercayaan perempuan terhadap usahanya. Dengan pembiayaan tanpa bunga, pendampingan kelompok, serta penguatan berbasis komunitas masjid, program ini diharapkan tumbuh berkelanjutan dan menumbuhkan ekonomi desa dari dalam.
Mawar Emas baru mekar, tetapi ia membawa pesan besar: bahwa ketika lembaga pemerintah, perbankan syariah, dan masyarakat sipil bekerja bersama—bahkan jeratan rentenir pun bisa perlahan kehilangan kuasa. Kini, di Lendang Nangka, sebuah harapan baru sedang disemai: perempuan yang berdaya, usaha yang bertumbuh, dan desa yang melangkah menuju masa depan yang lebih mandiri.

