Stiker kuning bertuliskan “Saya Tuna Rungu” menempel di helm yang selalu digunakan Mardhiatun setiap hari. Kalimat sederhana itu menjadi simbol keberanian dan semangatnya dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa disabilitas yang kini tengah menempuh pendidikan tinggi di Lombok Timur.
Mardhiatun merupakan penerima beasiswa pendidikan disabilitas berprestasi di Universitas Hamzanwadi, Selong. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), dan mengikuti perkuliahan reguler bersama mahasiswa lainnya.
Perjalanan Mardhiatun menuju bangku kuliah bukanlah proses yang mudah. Ia sempat gagal dalam seleksi beasiswa pada percobaan pertama. Namun dengan tekad yang kuat dan semangat belajar yang tinggi, ia kembali mencoba setahun kemudian dan berhasil lolos pada tahun 2025.
Kini, Mardhiatun menjalani aktivitas kampus dengan disiplin. Setiap hari, ia berangkat sendiri ke kampus menggunakan sepeda motor, mengikuti perkuliahan dari Senin hingga Jumat, serta aktif dalam kegiatan tambahan bersama teman-temannya pada akhir pekan.
Di balik perjuangannya, terdapat dukungan keluarga yang terus menguatkan langkahnya, meskipun keterbatasan ekonomi sempat menjadi tantangan besar. Beasiswa dan lingkungan kampus yang inklusif menjadi ruang penting bagi Mardhiatun untuk terus berkembang dan percaya diri.
Selain pendidikan formal, Mardhiatun juga memiliki keterampilan menjahit yang telah diasah sejak kecil. Ia menempuh pendidikan dasar hingga SMA di Sekolah Luar Biasa Muhammadiyah Kelayu, Lombok Timur. Di sekolah tersebut, ia tidak hanya belajar akademik, tetapi juga keterampilan hidup, termasuk menjahit.
Prestasinya pun membanggakan. Mardhiatun kerap mengikuti lomba menjahit hingga tingkat provinsi dan meraih berbagai penghargaan. Kemampuan ini kemudian semakin berkembang melalui dukungan program pemberdayaan disabilitas di tingkat desa.
Pada tahun 2025, Mardhiatun mengikuti pelatihan menjahit bagi penyandang disabilitas yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Banjar Sari melalui kolaborasi dengan Program INKLUSI–Yayasan BaKTI dan Lombok Research Center (LRC).
Pelatihan intensif selama dua minggu tersebut memperkuat keterampilan Mardhiatun dalam membuat berbagai model pakaian, seragam, serta perlengkapan rumah tangga seperti taplak meja, kelambu, dan keset. Program ini menjadi bagian dari upaya LRC melalui Program INKLUSI dalam mendorong kemandirian, pemberdayaan ekonomi, serta peningkatan kapasitas penyandang disabilitas di Lombok Timur.
Saat ini, Mardhiatun terus menatap masa depan dengan cita-cita besar: menjadi guru sekolah luar biasa dan berkontribusi dalam dunia pendidikan inklusif. Prestasi akademiknya di kampus pun terus menunjukkan hasil yang memuaskan.
Kisah Mardhiatun menjadi potret bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk tumbuh dan berdaya. Dengan dukungan keluarga, akses pendidikan, serta program inklusif yang diperkuat oleh LRC melalui Program INKLUSI, penyandang disabilitas memiliki ruang yang lebih luas untuk meraih masa depan yang setara.

