MENYATUKAN KEKUATAN UNTUK MENGANGKAT UMKM BAMBU SIKUR

Suasana hangat dan penuh diskusi kritis terasa di Classic Coffee, Kamis (28/8/2025), ketika Lombok Research Center (LRC) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pemetaan Potensi dan Jenis Usaha UMKM Berbasis Bambu”. Kegiatan ini menjadi titik temu penting antara pemerintah daerah, lembaga keuangan, hingga para pelaku UMKM dan pengrajin bambu di Kecamatan Sikur, Lombok Timur.
 
FGD ini merupakan bagian dari kolaborasi strategis LRC dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, dengan tujuan utama mengidentifikasi peluang usaha berbasis bambu sekaligus memetakan jenis-jenis bambu yang berpotensi dikembangkan di wilayah Kecamatan Sikur. Selain itu, forum ini juga menjadi ruang untuk mendengar langsung tantangan yang dihadapi oleh para pengrajin dan UMKM bambu yang menjadi ujung tombak industri kreatif lokal.
 
Hadir dalam diskusi ini berbagai pemangku kepentingan lingkup Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, mulai dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan UMKM. Selain itu, hadir juga perwakilan lembaga keuangan, yaitu dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Pemerintah Desa Tete Batu Selatan dan Pemerintah Desa Montong Baan, hingga para pelaku UMKM dan pengrajin bambu di 14 desa se-Kecamatan Sikur.
 
Diskusi difasilitasi oleh Assairul Kabir, seorang fasilitator berpengalaman yang dikenal piawai menghidupkan forum partisipatif di Lombok Timur. Dengan gaya komunikasinya yang lugas namun membangun suasana kondusif, Kabir berhasil menjembatani berbagai sudut pandang peserta, sehingga FGD ini berlangsung interaktif dan menghasilkan banyak gagasan segar.
 
“Potensi bambu di Kecamatan Sikur sangat besar, bukan hanya sebagai bahan baku kerajinan, tetapi juga untuk produk inovatif yang bernilai ekonomi tinggi. Namun potensi ini belum sepenuhnya digarap secara sistematis,” ujar Kabir saat membuka diskusi.
 
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah tulang punggung ekonomi di Lombok Timur. Di banyak desa, UMKM terbukti mampu menyerap tenaga kerja, memanfaatkan potensi lokal, dan menjadi penyangga ekonomi masyarakat akar rumput. “Di Kecamatan Sikur ini, kita punya satu kekayaan yang sangat khas: bambu. Di Kecamatan Sikur dan sekitarnya bambu tumbuh subur dan sudah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari kerajinan, perabot rumah, hingga bahan bangunan”, Suherman, Direktur LRC dalam pengantarnya.
 
“Namun, yang kita lihat selama ini, pemanfaatannya masih sederhana, skala kecil, dan lebih banyak mengandalkan keterampilan tradisional. Padahal, kalau digarap lebih serius, bambu bisa menjadi sumber usaha kreatif yang bernilai ekonomi tinggi”, sambungnya.

Diskusi kelompok yang dilakukan oleh Peserta Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pemetaan Potensi dan Jenis Usaha UMKM Berbasis Bambu” yang diselenggarakan oleh Lombok Research Center (LRC) di Classic Coffe, Sikur, Lombok Timur pada, Kamis (28/08/2025).

Menggali Potensi: Bambu Sebagai Emas Hijau Sikur
Potensi bambu di Kecamatan Sikur sangat besar karena memiliki beragam jenis bambu seperti bambu tali, petung, loreng, galah, dan buluk. Jenis-jenis bambu tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga kerajinan bernilai jual tinggi. Produk tradisional seperti bedek, pagar, tusuk sate, tusuk gigi, dan keranjang masih banyak dibuat oleh masyarakat. Sementara itu, inovasi juga terus berkembang dengan lahirnya produk kreatif seperti gelang, tas, kursi, bahkan berugak khas Lombok. Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 1.500 kreasi bambu yang menunjukkan bahwa bambu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai basis ekonomi kreatif desa.
 
Namun, pemanfaatan potensi ini masih menghadapi berbagai tantangan. Ketersediaan bahan baku bambu semakin berkurang akibat alih fungsi lahan, bahkan sebagian bahan harus didatangkan dari luar daerah. Di sisi lain, jumlah pengrajin menurun karena minat pemuda pada komoditi bambu masih rendah. Permodalan terbatas membuat pelaku usaha sulit memperbesar skala produksi dan berinovasi. Dari sisi pemasaran, produk bambu belum optimal masuk ke pasar modern maupun digital. Pengiriman produk ke luar daerah juga sering terkendala biaya dan sistem logistik. Kurangnya perhatian dari OPD terkait serta distribusi program UMKM yang belum merata semakin memperburuk kondisi, sehingga banyak potensi bambu yang belum tergarap maksimal.
 
Untuk menjawab tantangan tersebut, pelaku usaha bambu membutuhkan dukungan nyata dalam bentuk akses permodalan, pelatihan keterampilan, serta penguatan pemasaran, terutama di ranah digital. Harapan besar ditujukan kepada pemerintah daerah agar memberi perhatian khusus pada UMKM bambu, sehingga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa. Pelatihan pemasaran digital, inovasi produk, serta dukungan logistik sangat penting untuk memperluas jangkauan pasar produk bambu. Dengan intervensi yang tepat, industri bambu lokal tidak hanya mampu menjaga kelestarian tradisi, tetapi juga berkembang menjadi sektor unggulan yang menggerakkan ekonomi masyarakat desa.
 
Dalam forum tersebut, Bappeda Lombok Timur menekankan pentingnya melakukan pemetaan yang lebih rinci. “Kita perlu data yang akurat tentang jumlah UMKM bambu, jenis produk yang dihasilkan, kapasitas produksi, hingga akses pasarnya. Dengan data inilah kebijakan pembangunan bisa lebih tepat sasaran,” tegas Lalu Ridho Arindi, Kabid. Litbang Bappeda mewakili Kepala Bappeda Kabupaten lombok Timur.
 
Senada dengan itu, perwakilan Dinas Perindustrian menambahkan bahwa bambu dapat menjadi salah satu produk unggulan daerah jika dikembangkan dengan pendekatan industri kreatif. “Kita bisa belajar dari daerah lain yang sudah lebih dulu mem-branding produk bambu sebagai ikon. Lombok Timur punya peluang yang sama, terutama dengan dukungan sektor pariwisata yang terus tumbuh,” katanya.

Presentasi peserta FGD mengenai berbagai potensi, peluang, dan tantangan dalam pengembangan usaha berbasis bambu

Suara Pelaku UMKM: Antara Harapan dan Tantangan
Bagian paling menarik dari FGD ini adalah ketika para pengrajin dan pelaku UMKM berbicara langsung mengenai pengalaman mereka. Salah seorang pengrajin asal Desa Tetebatu Selatan menceritakan bagaimana produk anyaman bambu mereka diminati wisatawan, namun terkendala pada pemasaran dan keberlanjutan produksi.
 
“Kami bisa membuat kerajinan sesuai pesanan, tetapi sering kali kesulitan dalam mengakses modal. Selain itu, regenerasi pengrajin juga menjadi masalah karena anak-anak muda lebih tertarik kerja di sektor lain,” ungkapnya.
 
Keluhan lain datang terkait rantai pasok. Bambu sebagai bahan baku kadang sulit diperoleh dengan kualitas tertentu karena belum ada sistem budidaya yang terstruktur. “Kalau kita mau produk standar ekspor, tentu harus ada kualitas bahan yang konsisten. Itu tantangan besar,” ujar seorang pelaku UMKM lainnya.
 
Dari sisi lembaga keuangan, perwakilan BRI menegaskan komitmen mereka dalam mendukung UMKM bambu melalui akses kredit. Namun, tantangan administrasi dan kelayakan usaha sering kali menjadi penghambat bagi pengrajin kecil. “Kami berharap dengan adanya pemetaan potensi ini, para pelaku UMKM bisa lebih mudah mengakses program pembiayaan,” jelasnya.
 
Momentum Penting Menuju UMKM Bambu Berdaya Saing
FGD yang berlangsung selama lebih dari tiga jam itu akhirnya ditutup dengan komitmen bersama untuk menindaklanjuti hasil diskusi ke dalam program konkret. Kepala Desa Tetebatu Selatan melalui Muzammil, Kepala Seksi Pemerintahan bahkan menyatakan kesiapannya untuk menjadikan desanya sebagai percontohan pengembangan UMKM bambu berbasis masyarakat.
 
“Kami punya lahan dan komunitas pengrajin yang siap didampingi. Semoga ini menjadi awal kebangkitan ekonomi lokal melalui bambu,” ujarnya penuh optimisme.
 
Kegiatan FGD di Classic Coffee ini tidak sekadar diskusi biasa, tetapi menjadi ruang strategis untuk menyatukan langkah berbagai pihak dalam mengembangkan UMKM berbasis bambu. Dari perwakilan pemerintah, lembaga keuangan, hingga pengrajin, semua menyuarakan semangat yang sama: menjadikan bambu sebagai kekuatan ekonomi baru bagi Lombok Timur.
 
Dengan hasil pemetaan yang akan dilakukan, diharapkan ke depan akan lahir produk-produk bambu inovatif yang tidak hanya mengangkat identitas budaya lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional.
 
Pada akhirnya, forum ini mengingatkan bahwa bambu bukan hanya sekadar tanaman, tetapi simbol kemandirian, kreativitas, dan keberlanjutan. Dan di tangan para pengrajin Sikur, bambu berpotensi menjelma menjadi sumber kesejahteraan baru bagi masyarakat Lombok Timur.